Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Dicari: Rumah Cinta Seniman Jambi



KETIKA DISUGUHI sebuah kumpulan karangan atau antologi, baik kumpulan prosa maupun antologi puisi, saya selalu bertanya-tanya, kenapa mereka dikumpulkan? Apa yang mendasarinya? Lalu mereka mesti dibaca seperti apa?

Saya kira karya sastra dikumpulkan dengan banyak alasan atau simpul. Yang paling umum tentu saja karya disatukan oleh dan atas nama penulisnya. Berlimpahan contoh bisa disebutkan untuk antologi model ini. Di ranah puisi, setiap penyair mungkin punya antologi puisi masing-masing. Pada awal riwayat kepenyairan seseorang, antologi ini menjadi penahbis bahwa penulisnya telah layak disebut penyair. Di tangan penyair “senior”, selain menjadi peneguh eksistensi bahwa sang penyair masih menulis puisi, antologi disusun sebagai dokumentasi dan kadang-kadang juga untuk tujuan komersial. Apa pun itu, yang menarik, karena disatukan oleh nama pengarang, intensi pengarang yang dibunuh Roland Barthes dengan manifestonya “pengarang sudah mati” sulit dihindarkan.

Ada pula antologi yang dibuat karena “riwayat” puisi di dalamnya. Hijau Kelon dan Puisi 2002 dan Puisi Tak Pernah Pergi, misalnya, adalah kumpulan puisi yang punya riwayat pernah dimuat di rubrik “Bentara” di harian Kompas. Pertemuan-pertemuan penyair yang kerap diadakan setiap tahun juga melahirkan antologi yang tentu saja meriwayatkan pertemuan itu. Meski tidak banyak, tema juga bisa menjadi pemersatu sebuah antologi. Belakangan kita disuguhi puisi-puisi tentang korupsi dalam Puisi Menolak Korupsi yang sudah berjilid-jilid.

Kalau di dalam prosa antologi jenis ini sangat sedikit, tidak demikian di puisi: antologi yang didasarkan pada asal pengarang. Setiap kota nyaris punya antologi puisi masing-masing. Termasuk dalam kategori ini adalah Tiga Bukit Sungai Au yang menghimpun puisi-puisi para penyair Bungo serta antologi yang menjadi bahasan kita sekarang: Rumah Cinta: Antologi Puisi Penyair Jambi.

Pengumpul itu kemudian tidak sekadar pemersatu. Ia juga alat baca atau dijadikan sarana untuk mengulas. Puisi-puisi yang dikumpulkan atas nama pengarangnya berusaha dicari-cari pandangan dunia (worldview) pengarang di dalamnya. Puisi dari asal pemuatan yang sama bisa dilihat sebagai keberpihakan pemuatnya pada aliran puisi tertentu. Meski puisi tak selalu dikumpulkan karena tema yang sama, kecenderungan melihat tema dalam pembacaan sekilas atas puisi-puisi sangat sering dilakukan. Puisi dengan asal pengarang yang sama kerap dianggap menjadi representasi suatu daerah atau bahkan mouthpiece daerah itu.

Saya tentu tidak sedang mengusulkan cara pembacaan baru. Saya bahkan akan melihat Rumah Cinta juga sebagai kumpulan puisi. Dengan begitu, puisi-puisi di dalamnya tidaklah berdiri sendiri, tapi merupakan bagian dari puisi-puisi lainnya. Tanpa banyak menggunakan teori-teori yang njelimet, saya hanya akan mengandalkan kesan untuk membacanya—karena itu, pembacaan saya sangat besar kemungkinannya untuk keliru. Selain itu, saya juga tidak membaca keseluruhan puisi, melainkan hanya sebagian kecil.

Saya akan memulainya dari puisi “Rumah Cinta” karya Mhd. Ihsan yang menjadi judul antologi ini. Saya setuju dengan kurator yang menyebut puisi ini “terasa begitu murung”. Bayangkan, rumah cinta kita adalah pusara tanpa aksara, yang dipenuhi cungkup-cungkup kemboja meletup, angin yang melintas asin, suasananya bersepi-sepi musim berkalang tabah, bertabur kuntum saji, dan penuh harum aroma merah tanah. Bukannya penuh tawa dan kebahagiaan, rumah cinta sang pengarang lekat dengan kematian.

Kemurungan yang begitu terasa di dalam “Rumah Cinta” juga muncul-kuat dalam dua puisi Rini Febriani Hauri. Di dalam “Distikon Kau dan Aku”, aku kehilanganmu dan aku mencarimu. Setelah aku melihat wajahmu dan aku menemukanmu, berganti pula kau kehilanganku. Meskipun kemudian kau [juga] melihat wajahku dan kau menemukanku, tapi itu di antara lembar-lembar kenangan yang beterbangan di sudut angan.

Puisi kedua dari pengarang yang sama, “Pasar yang Tak Pernah Ditinggalkan dan Aku yang Telah Ditinggalkan”, jauh lebih muram ketimbang yang pertama. Puisi ini menghadirkan pertentangan sempurna antara pasar dan aku. Kalau pasar penuh dengan kendaraan dan lautan pedagang/ Yang menjajakan dagangannya di pinggiran jalan gang-gang sempit/ Asap-asap dapur penghuni pasar mengepul kental/ Dan saling bergelut memperebutkan nasib// Pasar tak pernah ditinggalkan oleh pemiliknya, pun peminatnya.

Dan aku-lirik bukanlah pasar: Aku hanyalah kesunyian yang telah ditinggalkan serpihan masa lalu// Aku telah ditinggalkan oleh keramaian/ Dan kerdil dalam lautan asap yang menyerangku. Kalau pasar menyediakan apa saja yang kaubutuhkan/ Aku tidak sepenuhnya begitu. Aku telah ditinggalkan, tampaknya oleh kau-lirik, karena aku tidak menyediakan semua kebutuhan kau, meskipun aku bisa saja menjelma pasar/ Menjadi transaksi yang kauinginkan/ Di antara carut marut dan getirnya hidup.

Kemurungan juga muncul dalam puisi-puisi Titas Suwanda. Puisi “Kepada Tepian” berkisah tentang pembebasan sungai-sungai yang tergadai: Sungai telah kian sangsai,/ memucat bersama hikayat sepasang angsa/ yang dicatat sejarah menjelma pusaka. Kepedihan pengarang akan sungai (dan lingkungan) yang tergadai juga muncul di dalam puisi “Ode Sebilah Mata Pisau”: baik di barat maupun di timur tak ada lagi harapan, sebagaimana tampak dalam tiga bait berikut:

Di barat, berbatas tanah kelahiranmu
Para petani pun telah benar-benar kaya
Mengganti karet menjadi sawit
Tak ada lagi kayu-kayu sebesar gajah, atau
Hutan-hutan ulayat yang benar-benar perawan,
dibuntingi alat-alat berat, kemudian
ditinggal pergi, menjanda

Di timur, sepanjang pesisir laut Jambi
Para nelayan berpantang lelah
Mengolah tanah-tanah gambut
Menjadi sawah, lalu
Menjelma pulau harapan
Membuka tempurung-tempurung kopra
Hingga kota berbatas kota

Tak ada lagi ke laut berbunga pasir, ke darat berbunga kayu
konon, mengisi lumbung padi marga-marga

Kemurungan yang menjelma pedih sebagaimana dirasakan Titas sangat mirip dengan yang dituliskan Utomo Soconingrat di dalam puisi “Air Mengalir ke Lembah-lembah”. Utomo menanyakan mengapa tanah tak lagi menyerap air hujan?/ “Sebab hutan tak lagi berakar, kebutaan telah membakar hati/ Gemintang binatang langka, punah terpanah api. Jawaban akhir dari puisi-yang-ingin-tampak-religius ini adalah kebutaan [dari] mengingat Allah.

Anggiri Penangsang menarasikan kemurungan itu dalam puisi “Narasi Semu: Lelaki Tua”: Mengaduk lautan gelisah/ tak ke tepi, tak pula ke tengah/ Terombang ambing tanpa lalu/ di lautan gelisah// Tak senyum, tak tangis dia tunjukkan. Meski tak begitu kentara, kemurungan tersisa juga dalam puisi Indarto Irwanto, “Di Jembatang Sungai Alai”: Angin bersekutu dengan hujan sebaris pohon dirundung mendung/ Demikianlah bila matahari enggan menabur cahayanya.

Mengapa puisi-puisi itu begitu murung? Mengapa para penyair yang diikat oleh “rumah cinta” bersama bernama Jambi menghadirkan kemuraman? Apakah mereka merasa tidak at home di Jambi? Kalau ya, apa yang membuat mereka merasa begitu? Apakah iklim kepenyairan di Jambi? Atau iklim berkesenian di daerah ini secara luas?



Saya tidak tahu banyak. Saya hanya akan membandingkan Rumah Cinta dengan narasi rumah yang dibangun oleh almarhum penyair Ari Setya Ardhi. Cukup mengejutkan, penyair ini ternyata banyak sekali menggunakan diksi atau narasi rumah di dalam puisi-puisinya. “Menerima Bingkisan Waktu”, “Mengemudikan Laut”, “Menjadi Pemirsa”, “Merajut Benang Gempa”, “Merebut Sejarah”, “Mendiami Rumah Tangga”, “Mempersiapkan Waktu”, “Menebar Pelangi”, “Membakar Kereta Waktu”, “Membaca Teks Sejarah”, dan “Menata Rumah Hujan” adalah beberapa puisinya yang menghamburkan diksi “rumah”.

Rumah di dalam puisi Ari juga tak selamanya menguarkan kebahagiaan dan kenyamanan. Kata “rumah” bahkan digandengkan dengan kata-kata lain atau digunakan untuk membentuk frasa muram seperti “rumah bencana” (“Merajut Benang Gempa”), “rumah air mata” (Membakar Kereta Waktu”), “rumah yang terbakar” (“Mengemudikan Laut”), “menimbun virus dalam rumah” (“Menjadi Pemirsa”), “ketandusan perumahan rayap” (“Merebut Sejarah”), dan “dinding-dinding retak/ mengalirkan embun dari luar rumah” (“Menerima Bingkisan Waktu”).

Namun, di beberapa puisi yang lain, Ari jelas sekali membangun rumah dengan optimisme: “rumah impian” (“Menata Rumah Hujan”), “rumah liberty” (“Membaca Teks Sejarah”), “dari penjuru rumah, lampu-lampu (mulai) gemerlap” (“Menebar Pelangi”), “rumah pelaminan” (“Mempersiapkan Waktu”), dan tentu saja “rumah bunga” di dalam “Mendiami Rumah Tangga”. Saya kutipkan puisi terakhir tersebut utuh:

sesekali kegetiran angin mendesir
merapatkan gigilan selimut
bersama aroma kesakralan percakapan
di kesyahduan ranjang mawarmu
membiarkan jendela cinta terpana
kemudian pintu kedamaian terkuak
seluas sabana rindu yang senantiasa
menggedor-gedor keterbatasan dengan
jemari ketabahan. sementara,
kerimbunan ilalang menebal lantai
memasrahkan rerumputan menumbuhkan
ruang-ruang kekekalan. lalu,
kita semaikan benih bunga-bunga
sepanjang helaan nafas, sampai
desah pelaminan itu melindapi
sekujur kebisuan ruang tamu. kita
hembuskan jiwa keheningan yang
berkeliaran di atas atap, melumatkan
kemekaran birahi yang tak henti mengerang,
menyatukan kepolosan tubuh bumi.

kita telah membangun rumah bunga nel,
menancapkan akar ketulusan sembari
terus memupuki tunas-tunas yang
mulai berkejaran, menuai
serbuk-serbuk yang menebarkan
benih-benih keasrian bunga
yang terus bermekaran. sementara
di luar rumah, sungai-sungai
mengalirkan pertentangan yang
harus ditebus tanpa perlu
membelanjakan keperihan masa lalu.
dekaplah kenangan angin yang menyebar,
menuai keganasan taufan jalanan.
peluk, rengkuhlah sisa gerimisku
jangan lepaskan kegemetaran pepohonan
yang membungkus kegairahan di tamanmu

Meski terlihat tak mudah, dengan segala keterbatasan, ketabahan, keperihan, dan pertentangan, “Membangun Rumah Tangga” bertekad mendirikan rumah yang penuh cinta, kedamaian, rindu, birahi, dan kekekalan. Ini mungkin rumah cinta yang jauh lebih tepat sebagaimana diidamkan oleh Ihsan.

Sekali lagi saya tidak tahu banyak apakah iklim kepenyairan dan berkesenian di masa Ari masih hidup yang membuat rumah cinta seperti itu bisa dibangun, yang berbeda dari sekarang, yang hanya menghadirkan kemuraman. Bisa jadi begitu. Ari sendiri menyebut dirinya sebagai bohemian yang, menurut KBBI, merupakan “orang yang hidup bebas... orang yang hidup mengembara dan tidak teratur serta tidak memikirkan masa depannya.” Dengan kata lain, bohemian adalah orang yang lentur atau tidak mau terikat terhadap aturan (atau “rumah”).

Dengan sifat yang lentur seperti itu, Ari kemudian tidak mempermasalahkan berbagai kritik yang ditujukan kepada karya-karyanya. Di dalam puisinya di atas, meskipun membangun rumah tangga, yang sifatnya sangat privat, Ari tetap membolehkan “pertentangan” atau kritik. Dia tidak antikritik. Ketika membahas puisi-puisi Chory Marbawi (juga sudah almarhum), Maizar Karim (2008) memuji Ari sebagai “penyair yang terbuka atas kritik dan selalu rendah hati”:

Pada awal kepenyairan Ari Setya Ardhi (alm.), saya membaca beberapa sajaknya di beberapa koran ibu kota dan koran daerah. Saya mencoba memberi catatan atas sajak-sajak itu, ada juga dari sajak-sajaknya itu saya beri komentar secara lisan pada pertemuan-pertemuan tidak resmi dengannya. Ternyata ia kemudian menerima komentar saya, dan mengubah di sana-sini sajak-sajaknya. Hal ini terbukti dari sajak-sajaknya yang terbit kemudian sebagai buku dan pada sajak-sajak yang kemudian dibacanya secara auditorium. Ari Setya Ardhi memang penyair yang terbuka atas kritik dan selalu rendah hati...

...komitmennya dalam dunia kepenyairan... tidak pernah goyah. Apa pun komentar dan kritik pembaca, ia terus-menerus berkarya. Seakan-akan menghasilkan karya sastra adalah jalan hidup atau profesi yang sudah merupakan takdirnya.
Dari beberapa segi, saya dengar, kritik seperti itu yang (mulai) hilang dari rumah kesenian di Jambi. Tak boleh ada pertentangan di dalamnya. Rumah tanpa kritik itu, meskipun diberi nama dengan rumah cinta, mungkin hanya akan menujumkan kematian dan kemuraman, sebagaimana dalam puisi-puisi di dalam Rumah Cinta.[]

___________

Disampaikan dalam diskusi buku Rumah Cinta yang diadakan oleh komunitas Lacak Literasi di aula Kantor Bahasa Provinsi Jambi, 26 Maret 2016.

Foto-foto diambil dari akun Facebook Mhd. Ikhsan.

Pamflet Itu Bernama Novel


INGATAN SAYA langsung tertuju pada Akhrej Minha ya Mal'un-nya Saddam Hussein saat membaca paragraf-paragraf awal Perahu karya Conie Sema. Ada beberapa persamaan antara kedua novel itu. Pertama, kalau Perahu didahului “khotbah” panjang tentang berbagai ketidakadilan di “Intro”, mulai dari masa penjajahan Belanda, 1965, Orde Baru, hingga masa subur LSM dan nekolim serta neolib; Akhrej Minha ya Mal'un didahului oleh narasi tentang setan yang agak berlebihan—karena itu, dalam edisi Inggris, Jepang, maupun Indonesia, novel ini diberi judul dengan arti “tarian setan” atau yang serupa dengan itu. 

Karena itu kemudian, kedua, baik Perahu maupun Akhrej Minha ya Mal'un, sejauh pembacaan saya, adalah cerita tentang perlawanan terhadap ketakadilan itu. Dan ketidakadilan tentu saja bukan sesuatu yang kodrati atau terberi, melainkan berasal dari proses sosial yang alih-alih alamiah, justru disetir oleh suatu rezim kekuasaan. Karena itu, perlawanan terhadap ketidakadilan berarti juga perlawanan terhadap penguasa. Di dalam Perahu, para tokohnya kentara sekali menggugat ketakadilan (borjuis dan pemerintah), karena acap gugatan itu disampaikan dalam dialog verbal. Sementara di dalam Akhrej Minha ya Mal'un, ketidakadilan dituding berpangkal dari Yahudi. Tokoh Salim (Islam) kemudian melawan simbol Yahudi yang mewujud pada tokoh Hasqil. 

Bedanya, kalau perlawanan di dalam Akhrej Minha ya Mal'un menghasilkan pemenang, yaitu Salim, yang berhasil menghancurkan menara kembar milik Hasqil, tidak demikian di dalam Perahu. Perlawanan di dalamnya berujung pada kekalahan semua tokohnya. 

Tokoh Baya hidup bersuamikan Umar dan kedua anaknya, Lina dan Gofur. Umar dan Baya adalah pekerja pada keluarga suami-istri Boni dan Lastri. Umar bekerja di bagan milik mereka, sedangkan Baya adalah pembantu rumah tangga mereka. Pada awalnya hidup mereka baik-baik jika saja rumah tangga Boni dan Lastri harmonis gara-gara mereka tak punya anak. Umar yang sering menemani Lastri mengurus usaha kemudian terlibat perselingkuhan. Di akhir cerita, Lastri melahirkan anak dari perselingkuhan itu. 

Sementara Baya yang membantu mengurus rumah tangga Boni dan Lastri, karena Boni sering berada di rumah ketimbang istrinya, terlibat pula perselingkuhan dengan sang majikan. Perselingkuhan awalnya diceritakan dengan sedikit paksaan, tapi kemudian Baya menikmatinya. Tak sampai di situ, Lina, anak Umar dan Baya, terlibat hubungan terlarang dengan Along, seorang agen obat yang telah beristri, sebelum kemudian juga berselingkuh dengan Boni dan teman kuliahnya serta para aktivis LSM. 

Dari selingkuh itu, Lina hamil. Demi mendapati Lina yang mengandung, Baya kalap. Usai persetubuhan panjang, dengan bengis dia menghabisi Boni, yang dia anggap menghamili Lina—Lina hanya mengaku dipaksa melayani Boni; tak diceritakan dia mengaku pada Baya bahwa telah bersebadan pula dengan teman-temannya serta Along. Andaipun belum pernah membuka-buka novel klasik Germinal karangan sastrawan Prancis Emile Zola, pembaca akan tahu bahwa referensi yang dipakai pengarang untuk membuat cerita sadisme itu adalah novel tersebut. Selain Baya yang melengkapi prosesi pembalasan dendamnya dengan (maaf) memotong kemaluan Boni, persis yang terjadi dalam Germinal, berkali-kali juga buku Zola tersebut disebut oleh pengarang saat bercerita tentang sadisme yang dilakukan Baya. Tak hanya itu, pembaca juga disodori perdebatan yang pernah terjadi di Indonesia bahwa apakah sadisme yang dilakukan Gerwani, salah satu organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI), terhadap para jenderal di Lubang Buaya, jika sejarah 1965 versi Soeharto diterima, diinspirasi oleh Germinal. 

Dalam struktur cerita yang demikian, siapakah yang menjadi pemenang? Kalau kita setuju dengan postrukturalis Prancis Michel Foucault dan Roland Barthes yang bersepakat bahwa struktur perlu dilihat setidaknya untuk melihat siapa penguasa—minimal yang diuntungkan dari—struktur itu—untuk kemudian mendekonstruksinya—tak ada tokoh pemenang. Di akhir kisah, diceritakan Baya dipenjara dan gila dengan mengamuk membunuhi rekan-rekannya sesama tahanan. Demikian pula Umar yang terusir karena tidak dibutuhkan lagi oleh Lastri sebab perempuan itu telah menjadi lesbian berpasangan dengan Lina. Tak ada pemenang, tak ada yang diuntungkan, dan semua tokoh kalah. 

Sebagaimana dalam sadisme Baya yang nyata referensinya ditunjukkan ke pembaca berasal dari Germinal karangan Zola, banyak peristiwa yang terjadi dalam ranah realitas yang dihamburkan di dalam novel itu, semisal Tragedi Talangsari, Peristiwa 1965, juga Reformasi 1998—kaver novel itu bahkan dibubuhi kata “a story behind the political reform of Indonesia”. Artinya, referensi penulisan novel ini disodorkan ke pembaca dengan gamblang. Maka jangankan berteka-teki, sadar atau tidak, tafsir pembaca pun tergiring untuk memaknai Perahu dalam konteks demikian. 

Apakah hal itu dikarenakan penulis novel ini seorang jurnalis yang biasa bergelut dengan “fakta” yang didapat dengan ketat? Bisa jadi ya. Namun demikian, tidak semua jurnalis yang menulis sastra berperilaku menghamparkan banyak fakta di dalam karya sastranya. Sebut saja Ahmad Tohari (harian Merdeka), Martin Aleida (Tempo), Seno Gumira Ajidarma (Jakarta Jakarta), Akmal Naseri Basral (Tempo), Aris Kurniawan (majalah Film), Nur Mursidi (majalah Hidayah), atau Yupnical Saketi (Posmetro Jambi). 

Saya sering menyederhanakan bahwa prosa yang baik dan berhasil punya dua prasyarat: kisah yang disampaikan menarik dan cara ungkapnya memikat. Bila harus dirujukkan, pendasarannya ada pada teori kisah (narrative)-nya Paul Ricoeur dalam Time and Narrative. Dalam berkisah, kata Ricoeur, seorang pencerita mesti melewati tahap yang dinamakan seleksi dan kombinasi. Dengan bahasa berbeda Afrizal Malna secara puitis mengatakan bahwa berkisah adalah bekerja di dua meja. Ada semesta yang akan dikisahkan. Tentu tidak semuanya bisa masuk dalam sebuah kisah seperti novel, apalagi cerpen. Ada proses seleksi. Setelah menemukan apa saja yang akan dikisahkan, masuk tahap mengkombinasikan hasil seleksi itu. Seleksi dan kombinasi tidak saja terkait kisah-nya, tapi yang tak kalah penting adalah seleksi bahasa, menyangkut komposisi, genre literer, serta gaya yang merupakan kaidah penyusunan dan perangkaian (kombinasi) yang paling elementer dari sebuah karya literer. 

Inilah soalnya: kisah yang memikat sering tidak disertai dengan cara berkisah yang mengesankan. Sebaliknya, kerap terjadi penulis terlalu terpukau pada bahasa, memerhatikan hingga detail-detail kata yang digunakan agar bernuansa puitis, walhasil lupa pada kisah yang ingin disampaikan. Sudah barang tentu bila keduanya terjalin bagus, akan lahir kisah yang sempurna. Namun bila keduanya terabaikan, cerita yang ditulis bakal tidak mengesankan pembacanya alias gagal. 

Keberhamparan peristiwa acap membuat dua hal pokok itu terabaikan. Di satu sisi seleksi kisah benar-benar terabaikan, di sisi lain kombinasinya menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik sulit dilakukan. Kisah menjadi tidak fokus. Atau malah kebanyakan bumbu yang alih-alih menyedapkan, peristiwa yang berlimpah itu bila tak diolah secara benar-benar berpotensi membuat “masakan” hambar. 

Pada novel ini, kisah acap dicomot begitu saja dari kenyataan riil sehari-hari. “Based on true story” atau “a story behind” menjadi jebakan yang mematikan. Jebakan mencomot begitu saja seperti itu membuat pengarang tidak selalu memahami kisah dengan jelas atau kalaupun memahaminya secara baik, terjebak dengan pengetahuan sendiri dan luput mengolah sudut pandang. Pengarang menjadi paling tahu dan logika cerita diabaikan. 

Apakah dengan penghamparan peristiwa yang dipungut dari kenyataan sebenarnya itu, novel ini bisa disebut novel sejarah? Dengan definisi fiksi sejarah menurut Sarah Johnson mungkin ya. Aktivis Komunitas Novel Sejarah Amerika itu mengatakan, fiksi dan sejarah tidak dapat dipisahkan. Setiap fiksi, demikian Sarah, pada dasarnya adalah fiksi sejarah. Cerita yang ditulis pada 1960-an, misalnya, menyimpan dan membawa gambaran sebuah latar saat itu—sebuah pandangan dunia (worldview atau weltanschauung) zaman itu. Dengan begitu setiap fiksi atau novel adalah rekaman sejarah. 

Namun dengan bandingan fiksi sejarah ala penulis Italia Umberto Eco (The Name of the Rose yang mengambil referensi sejarah gereja Abad Pertengahan) atau sastrawan Rusia terbesar Leo Tolstoy (Haji Murad dan War and Peace), Perahu berbeda. Kalau novel-novel tersebut memakai peristiwa sejarah sebagai latar atau sebagai persoalan, tidak demikian dengan Perahu. Novel ini nyaris sekadar menghamparkan peristiwa yang alih-alih menjadi latar atau persoalan, melainkan sekadar titik tolak ide penulisan yang membuat pembaca—juga pengarang—sulit menjaga jarak darinya. 

Sekali lagi, kata Edgar Alan Poe, pada awalnya adalah cerita. 

Tentang perlawanan, yang sentral dalam Perahu, karena banyak peristiwa berhamparan, urung disampaikan secara “metaforis” yang membuat kenyataan tidak begitu saja atau langsung terkemukakan pada pembaca. Tak ada perenungan yang menjadi kekuatan khas karya sastra. Kekuatan karya para nobelis semacam Knut Hamsun (Hunger) atau JM Coetzee (Disgrace dan Waiting for the Barbarian), misalnya, bagi saya, terletak pada kepandaian pengarang membuat kisah agar cerita tersampaikan dengan apa adanya sekadar cerita, meski di balik itu kita mendapati sebuah kisah perlawanan yang gusar. Bahkan diktator Saddam Hussein, yang di luar karya adalah penentang keras adikuasa Amerika Serikat, di dalam karya berlaku tawadhu dengan mengaburkan kisah perlawanannya dalam simbol-simbol yang menarik. 

Kisah yang disampaikan dengan cara demikian, seberapa pun peristiwa yang melatarbelakanginya teramat terang, bila direntangkan jarak, akan utuh berdiri sebagai sebuah kisah. Itulah yang kemudian menjadi kegusaran Damhuri Muhammad ketika mengudar tafsir banyak orang yang mengatakan cerita yang ditulis mantan aktivis Lekra, Martin Aleida (Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi, Leontin Dewangga, dan Mati Baik-baik, Kawan, misalnya), adalah sebentuk gugatan terhadap ketidakadilan yang dialami orang-orang yang tertuduh simpatisan atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) serta keturunan mereka. Artinya, kalaupun dilepaskan antara peristiwa 1965—yang mungkin melatarbelakangi—dan cerita-cerita Martin, kisah itu tetap berdiri sebagai kisah. Hal sama saya rasa berlaku pada Ahmad Tohari yang menulis Ronggeng Dukuh Paruk, bahwa dilepaskan dari konteks 1965 pun, cerita di dalam novel itu tetap berdiri sebagai kisah utuh yang nyaman dinikmati. 

Tentang cara perlawanan itu dilakukan, bagi saya, ketimbang verbalisasi ulang kisah dalam Germinal, lebih baik mencari cara ungkap baru bagi perlawanan itu sendiri. Dua novel Eka Kurniawan, misalnya, bisa jadi bandingan yang baik. Di dalam Cantik Itu Luka, salah satu tokohnya melawan kekejaman serdadu Jepang yang memerkosanya dengan cara diam saja ketika perbuatan bejat itu dilakukan. Dia diperkosa tanpa ekspresi: tak ada desah, tak ada penolakan, tak ada air mata. Juga di dalam Lelaki Harimau, satu tokoh perempuan yang tidak bisa melakukan apa pun, menanami rumahnya penuh dengan bunga sebagai simbol perlawanan. Khas perlawanan di dalam cerita, saya rasa simbolik, ketimbang vulgar apalagi mengekor pada kisah dari pengarang pujaan. 

Penyampaian perlawanan secara vulgar tak lain adalah ciri pamflet. Seni pamflet, menurut Saut Situmorang, adalah seni propaganda untuk melawan propaganda, terutama propaganda pemerintah atau penguasa. Di zaman perjuangan, misalnya, “Merdeka atau mati!” atau “Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup becermin bangkai” adalah pamflet untuk melawan kolonial. 

Karya sastra yang menyerupai pamflet itu pernah marak sebelum peristiwa 1965. Kalau kita membuka-buka cerpen para pengarang Lekra yang dimuat dalam Lembar Kebudayaan Harian Rakyat, kita mendapati karya yang secara terang menyampaikan perlawanan, tanpa tedeng aling-aling. Karya-karya A Kohar Ibrahim, Putu Oka, Sulami, untuk menyebut beberapa penulis Lekra waktu itu, amat jelas menyuarakan perlawanan secara vulgar. Tak hanya pada karya sastra, bahkan kalau kita membuka-buka Harian Rakyat, berita yang disajikan pun nyaris serupa pamflet. Periode jelang 1965, pers Indonesia memang dikenal sebagai pers partisan untuk membela kelompok atau partai dan menentang secara terang kelompok lain. 

Pasca-1965, seni pamflet itu hilang oleh represi Orde Baru, diganti dengan bahasa santun lipstis ala Jawa. Suara berbeda dari pemerintah, jangankan yang disampaikan secara terang, dengan sangat kabur pun tetap dicurigai seperti halnya Ahmad Tohari atau Pramudya Ananta Tour yang sempat dipenjarakan. Di sinilah kemudian perlawanan dalam sastra menjadi niscaya, tentu dengan pengertian sastra sebagai semata dunia rekaan atau imajinasi. Maka Seno Gumira Ajidarma pun menabalkan semboyannya yang kemudian menjadi kredo waktu itu: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. 

Perahu, dalam beberapa hal, mengingatkan saya pada seni pamflet yang selama ini hilang tersebut. Apakah ini lahir karena Orde Baru telah runtuh dan berganti dengan Reformasi yang membuka sekat bagi perbedaan pendapat, masih perlu diperdebatkan lagi.[]


=============================================================
Ini awalnya kertas kerja saya dalam peluncuran Perahu pada 16 Agustus 2009 di Aula Kantor Bahasa Jambi. Di samping saya, pembicara lainnya adalah Halim HD. Novel lengkap dapat dibaca secara online di sini.

Membunuh Klise


7-11 Juli besok, akan diadakan Temu Sastrawan Indonesia (KSI) I di Jambi. Acara yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi Jambi tersebut terdiri atas kongres sastrawan, panggung apresiasi, wisata budaya, bazar buku, dll. Lebih dari 100 sastrawan kenamaan negeri ini diundang. Tiket perjalanan, penginapan, dan biaya akomodasi, termasuk honor pembicara, ditanggung panitia. Biaya acara pun membengkak: sekitar Rp 700 juta! Biaya sebesar itu sepenuhnya ditanggung Dinas Budpar Provinsi Jambi melalui dana APBD.

Siapa pun yang mendengar itu saya yakin terhenyak. Tak biasanya acara sastra gemuk anggaran. Sebagai perbandingan, pada 2007 teman-teman di Yogyakarta mengadakan acara “Temu Penyair Muda Empat Kota”. Penyair-penyair muda dari Bandung, Padang, dan Denpasar diundang untuk berjumpa dengan penyair-penyair Yogyakarta. Total 100 penyair ada. Dan berapa dana Pemerintah Yogyakarta mengucur untuk kegiatan itu? Tak banyak, tak sampai Rp 3 juta. Selebihnya adalah bantingan teman-teman panitia, juga peserta. Saya ingat, cerpenis Joni Ariadinata menyumbang nasi bungkus untuk satu konsumsi makan pagi, penulis Muhidin M Dahlan mendonorkan uangnya untuk satu makan siang, begitu seterusnya.

Perbandingan itu mungkin tak tepat. Yang ingin saya katakan dari situ adalah betapa dana yang sedikit tak menghalangi antusiasme peserta menghadiri sebuah acara, katakanlah, pertemuan sastrawan, asal konsepnya jelas. Ada ungkapan yang nyaris klise: uang sedikit cukup, uang banyak tetap kurang. Alih-alih menghasilkan banyak faedah, dana menggunung bisa menjerumuskan pada kemubaziran.

Tapi ternyata tidak hanya itu. Lewat kawan yang juga duduk di jajaran panitia, saya diberitahu bila tahun depan akan diadakan festival folklore internasional serta festival teater nasional—mengingatkan saya pada angan sebuah SD di sudut kampung yang mendaku bertaraf nasional atau bahkan internasional. Dan dananya, sekitar Rp 1,5 miliar!


Derasnya aliran dana dari pemerintah daerah mendukung acara-acara seni budaya mestinya bukan disesali, tapi disyukuri. Dengan begitu kegiatan budaya tidak kalah dari, misalnya, kabar-kabar pembukaan lahan perkebunan nasional di sebuah kabupaten atau pembangunan Jembatan Batanghari 2. Tapi pertanyaannya, apakah penggunaan dana seperti itu efektif bagi, sebagaimana impian panitia, pembangunan rumah tangga sastra Indonesia yang mandiri dan harmonis? Juga bergunakah ia bagi regenerasi sastrawan, khususnya di Jambi?

Jujur saya meragukan itu. Pertama, para sastrawan yang diundang adalah sastrawan matang yang sudah malang-melintang di jagad sastra negeri ini. Sangat sedikit—untuk mengatakan tidak ada—sastrawan muda yang diajak berkiprah. Saya tidak tahu apakah kebijakan ini berpangkal dari keprihatinan panitia tentang tidak adanya karya sastra “masterpiece” (ini istilah panitia) yang muncul akhir-akhir ini. Kebanyakan terbit di tahun-tahun belakangan malah karya populer seperti Ayat-ayat Cinta yang sukses secara penjualan, telah difilmkan pula. Panitia memprihatinkan itu, dan barangkali mengumpulkan para sastrawan adiluhung demi mempergunjingkan masa keemasan mereka sembari menera langkah menghadapi (persaingan) atmosfer sastra mendatang.

Zaman sudah berganti, Bung! Lagipula, bila bermimpi langit sastra Indonesia ke depan cerah, bukankah mestinya menumpukan harapan pada generasi muda? Dan yakinlah, generasi sastrawan muda, yang terkapling dalam banyak komunitas, justru yang menyelamatkan “keadiluhungan” sastra sebagaimana diangankan.

Penelitian Shiho Sawai tentang komunitas sastra Indonesia, meski belum tuntas, punya kesimpulan sementara menarik: komunitas sastra adalah bentuk pelaksanaan sastra Indonesia. Dan mereka yang aktif di komunitas ini adalah anak muda yang masih berjuang untuk menjadi “sastrawan”. Mereka antusias menulis publikasi sastra di koran-koran. Beberapa dimuat, tidak sedikit ditolak. Mereka juga rajin berdiskusi, saling kritik karya, dll. Pada merekalah sastra Indonesia, demikian peneliti asal Jepang itu menyimpulkan, dilaksanakan.

Kesimpulan Shiho tak berlebihan. Saya mengenal beberapa komunitas itu. Di Solo ada Kabut Institut yang menerbitkan Buletin Sastra Pawon rutin bulanan. Formatnya memang sangat sederhana, kelas fotokopian. Tapi melihat kesungguhan mereka untuk terus berkarya dan membuat publikasi dengan dana, sekali lagi, bantingan, komunitas peramai sastra di Solo ini layak diapresiasi. Di Yogya lebih banyak lagi, yang muda ada Rumah Poetika, Selasar, serta Ben yang menerbitkan Buletin Ben. Di Aceh juga ada Tikar Pandan, Do Karim, dan sebagainya.

Tanpa bermaksud membuat dikotomi tua-muda dan memandang bahwa generasi tua-matang tak lagi punya greget di dunia ini, tapi harapan terhadap sastra Indonesia, menurut saya, sebagaimana Shiho, lebih layak ditumpukan pada mereka yang muda.

Tapi sayang, mereka tak dilibatkan dalam ajang “nasional” sastrawan di Jambi. Ah, mungkin mereka belum genap jadi sastrawan—yang syaratnya kata Budi Darma adalah menulis publikasi sastra di media, menerbitkan buku sastra, dan aktif dalam kegiatan sastra—meski mereka sebenar-benarnya aktif, sebagaimana dalam contoh komunitas tadi.

Kedua, forum-forum sastrawan serupa TSI sudah banyak digelar. Wadah sastrawan di Nusantara juga banyak, dari daerah hingga pusat. Dewan Kesenian, misalnya. Wadah itu sering tidak berfungsi, benang koordinasinya ruwet dan entah menyangkut di mana. Tiap-tiap daerah berjalan sendiri-sendiri, tak pernah sebangun ide mengurai kusut sastra Indonesia.

Dan di situlah TSI justru pongah dengan ambisi menghadirkan “ekologi sastra Indonesia yang harmonis”. Jangan-jangan TSI 1 di Jambi nanti juga menghasilkan satu wadah baru yang malah memperkusut, alih-alih membuat harmonis. Setidaknya itulah yang dikhawatirkan penyair Ahmadun Yosi Herfanda saat dihubungi soal kesediaannya menjadi pembicara.

Ahmadun, kita tahu, adalah Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang juga punya angan serupa TSI. Hingga kini KSI tak jua bisa menjadi sebuah rumah bagi sastrawan Indonesia keseluruhan yang membuat mereka at home. Kalau KSI gagal, apakah TSI juga bakal mengalami nasib serupa? Tak bisa dibilang begitu, walau ini sekaligus menegaskan bahwa tak ada jaminan TSI bakal mampu.

Namun, dari forum-forum yang sudah sering digelar, tampaknya gagasan yang menggelontor nyaris itu-itu juga. Saya curiga forum itu malah menjadi semacam euforia berkumpul sastrawan, setelah sekian lama forum-forum seni selalu dicurigai rezim penguasa. Tak ada hal baru yang diperbincangkan, juga diputuskan. Ini klise.

Klise, dalam sastra, adalah tabu yang harus disingkirkan jauh-jauh. Kata pengarang Eka Kurniawan, karya sastra yang berhasil adalah karya yang gigih menemukan cara pengungkapan baru. Ada progresivitas di sini. Progresivitas itulah yang dimaksudkan Milan Kundera dalam The Art of Novel-nya. Tulis Kundera, jangan bayangkan progresivitas dalam sejarah novel serupa progresivitas dalam sejarah umumnya. Bahkan kisah cinta Romeo-Juliet pun masih ditulis hingga kini—tak ada tema baru. Yang baru, atau yang progresif, adalah cara pengungkapannya. Ini yang mesti digali terus-menerus. Di sini jelas: klise adalah musuh yang mesti ditikam untuk dirayakan kematiannya.

Di luar karya, langit sastra saya rasa juga harus seperti itu. Untuk apa bila kita membincangkan hal-hal yang sudah-sudah tanpa pemecahan dan aksi berarti?

Ketiga, dan yang terpenting bagi Jambi, apa guna TSI bagi regenerasi sastrawan di Jambi, bagi maju-pesatnya dunia susastra di Jambi. Ini penting ditanyakan sebab inilah kebutuhan lokal kita yang selama ini hilang. Silakan Anda hitung, adakah sastrawan di Jambi yang mapan hingga tingkat nasional (jangan bayangkan ini serupa atlet bertaraf nasional)? Juga silakan cek, berapa buku sastra terbit di Jambi atau oleh sastrawan Jambi? Untuk tingkat area “Melayu” pun, kita nyaris hilang ditelan riuh sastrawan Riau dan Lampung, misalnya.

TSI, saya rasa, tidak lantas bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan itu. Pemenuhannya hanya bisa dilakukan lewat upaya tiada lelah dan terus-menerus menyemangati sastrawan (muda-tua) kita untuk terus berkarya dan memajukan dunia sastra Jambi. Kalaupun TSI digelar, ia akan menjadi sebuah acara gemerlap yang membuat kita silau sesaat, dan setahun ke depan, sebab dana telah habis untuk acara-acara “nasional” dan “internasional”, kita nyaris tenggelam dalam sunyi serta hanya bisa memandang keriuhan itu berpindah dan terus menyala di tempat lain.

Bagi sastra Indonesia TSI mungkin saja ada gunanya. Tapi apakah Jambi, dengan APBD-nya, yang belum tuntas mengurus diri sendiri, diharuskan menyingsingkan lengan baju mengurus hajat nasional? Saya kira, ini serupa SD di sudut kampung yang berangan nasional dan internasional tadi, yang hirau memandang seberang lautan tapi alpa dengan realitas di pelupuk mata.

Tapi mungkin saja, program elitis dengan angan serupa telah kadung merasuk dalam sukma kita. Dalam lapangan “kesenian” lain, lihatlah, saban tahun kita menggelar MTQ yang meriah dari tingkat desa hingga provinsi. Tapi, tahukah Anda, betapa sebagian besar kabupaten di Jambi hanya punya satu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN)! Nyaris seluruh madrasah ibtidaiyah adalah swasta, yang tak mendapat kucuran BOS, yang terengah memajukan pendidikan Alquran. Sangat ironis.

Program-program ironis seperti itu, saya rasa, adalah klise yang tak boleh diulangi.[]



===================
Tulisan ini saya buat untuk merespons rencana kegiatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) beberapa waktu lalu. Selesai saya tulis, yakni menjelang pergelaran TSI, tak satu koran pun di Jambi mau memuatnya--entah kenapa. Oleh seorang kawan, tulisan ini difotokopi dan dibagi-bagikan ke panitia saat rapat. Konon waktu itu ada yang marah. Saya sendiri masuk dalam panitia yang sewaktu rapat itu tak hadir. Tentu tulisan ini tidak mencerminkan pandangan panitia, dan saya menuliskannya sebagai pribadi. Pemuatan di sini sekarang, selain sebagai dokumentasi, barangkali saja berguna.

Pak Haji Marto



Labbaika allahumma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik
Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk
La syarika lak

RANGKAIAN kalimat talbiyah itu bergema di seantero padang Arafah. Hari ini berjuta-juta jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sana. Semuanya datang memenuhi panggilan Allah. Berserulah mereka, “Labbaika allahumma labbaik, kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.”
Suara talbiyah itu terus bergema. Turun-naik membuat irama yang sangat syahdu. Siapa pun orang yang hadir di sana, pasti dapat merasakan kesyahduan itu. Kesyahduan yang menciptakan rasa damai luar biasa.

Pak Marto duduk di antara jutaan jamaah itu. Kepalanya ia tekuk ke bawah. Memperhatikan ujung pakaian ihramnya yang tak berjahit. Ada debu padang pasir yang menempel. Tapi bukan itu. Ia tak memperhatikan itu benar. Ada hal lain yang ia rasakan. Perasaan yang bercampur aduk menjadi satu. Bahagia, haru, juga menyesal. Harus menyesalkah aku, bisik Pak Marto lirih. Toh apa yang ia lakukan adalah sebentuk kebaikan. Tapi pantaskah suatu kebaikan dijalankan dengan cara yang tak baik? Tentu saja tidak.

Sejenak Pak Marto tengadah. Ia sapukan pandangannya ke sekeliling. Diperhatikannya gelombang manusia yang semuanya memakai baju putih itu. Seragam. Tak ada kelebihan bagi yang berpangkat. Juga tak ada kesan rendah bagi rakyat jelata, termasuk dirinya. Semua sama. Yang membedakan adalah derajat iman dan takwa. Tapi lagi-lagi itu tak tampak. Yang beriman dan bertakwa serta yang bukan tak tampak berbeda. Memang keimanan dan ketakwaan tak harus ditampakkan. Bukan saja tak harus, tapi juga tak pantas. Siapa sih yang pantas dan berhak mengatakan saya beriman dan kamu tidak? Tak ada. Semuanya tak berhak. Semua sama. Hanya Allah sematalah yang berhak menilai si fulan beriman dan fulan yang lain tidak. Manusia hanya wajib berusaha beriman dan bertakwa. Hanya berusaha. Tidak lebih. Tapi kalau sudah urusan penempelan cap iman atau tidak, tak hanya tidak wajib, tapi juga dilarang.

Itulah yang dikehendaki Pak Marto. Usahanya sungguh-sungguh beriman dan bertakwa tak hendak ia kabarkan pada siapa pun. Biarlah Allah yang di atas sana yang menilai. Ikhlas tidakkah ia. Pantas tidakkah ia disebut mukmin dan muttaqin. Hanya Allah yang berhak menilai. Pak Marto tak ingin dengan diketahuinya rasa iman dan takwanya yang sungguh-sungguh akan membuatnya congkak, tinggi hati, riya’. Sungguh ia tak ingin itu. Meski memang awalnya sering tak diniatkan untuk sebuah kesombongan, tapi ketika usaha ke arah itu diketahui orang lain, bukan mustahil akan mengubah niat yang mulanya ikhlas itu. Bukan mustahil. Siapa sih yang berani menjamin niatnya akan terus lurus? Siapa yang berani menjamin kadar iman dan takwanya tak akan berkurang? Siapa yang berani? Kalau ada yang berani, sombong betul orang yang demikian.

Pak Marto tahu, apa yang telah dilakukannya tak salah benar. Bukankah itu ia lakukan agar usaha iman takwanya tak ditunggangi niat-niat tercela. Tapi bagaimanapun ia telah berbohong. Tidak hanya pada tetangga, kerabat, tapi juga pada seluruh penduduk desa. Pak Marto merasa menyesal.

Labbaika allahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik…. Talbiyah itu masih terus mengumandang.

“Aku datang penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku datang….” Suara Pak Marto hampir terputus di cekat tenggorokan. Di bawah talbiyah entah kenapa sesal itu begitu menghunjam. Tubuhnya bergoyang keras. Pak Marto berusaha untuk tak terbawa emosi. Tapi tak bisa. Tangisnya meledak. Ia menyesal sekali.

“Tapi apakah Kamu mau menerima kehadiran hamba-Mu yang hina ini. Hamba-Mu telah berdosa, ya Allah.” Ratapnya dalam isak.

Ratapan itu hampir tak terdengar. Samar oleh suara talbiyah yang meninggi.

Di sampingnya, istri Pak Marto dapat memahami penyesalan suaminya. Sesal serupa juga ia rasakan. Masih bisakah hamba-Mu ini menjadi haji yang mabrur, sementara ada hal yang sangat Engkau benci hamba-Mu kerjakan, demikian suara isi hatinya. Tangis itu menular padanya. Mulutnya ia katupkan rapat-rapat dengan menggigit bibir tuanya. Agar isak tak keluar. Berkat itu seperti melenguhlah ia akhirnya. Lenguhan panjang tertahan di bawah syahdu talbiyah.

Sungguh dua insan yang sedang dimabuk taubat atas kesalahan yang tak seberapa besar. Tapi dalam pandangan keduanya ia tetap bernama kesalahan, yang mesti punya nilai hisab di sisi-Nya. Walau seberapa kecilnya kesalahan itu. Seperti halnya perbuatan baik sekecil debu yang luput tertangkap mata, ia tetap akan diperhitungkan.

Labbaika allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaik….

***

PAK Marto menghentikan pekerjaannya. Dipandanginya tandan-tandan segar kalapa sawit yang siap dipanen itu. Hari itu Pak Marto mulai menurunkan buah sawit dari pohonnya dan mengumpulkannya dalam satu gundukan. Nanti sore truk dari sebuah perusahaan yang sudah ia kabari kemarinnya akan datang bersama seorang juru timbang. Tandan buah segar yang berhasil ia turunkan hari itu akan ditimbang untuk kemudian diangkut ke perusahaan tadi.

Pak Marto teringat bagaimana usaha kerasnya membangun kebun itu. Selama tiga puluh tahun ia habiskan usianya di bawah rindang kelapa sawit. Ia ingin berhasil mengarungi hidup yang awalnya tak berpihak padanya itu.

Dan sekarang bolehlah ia dikatakan berhasil. Paling tidak tiga anaknya tak mengalami nasib serupa orangtua mereka yang hanya mengenyam pendidikan agama tingkat rendah di sebuah pesantren di desanya. Itu pun tidak sampai lulus. Zaman mengharuskannya demikian. Sebuah huru-hara skala besar memupus habis kecintaannya pada belajar. Ia tak pernah paham apa yang terjadi. Meski saat itu usianya mulai beranjak besar. Pun sampai sekarang. Yang ia tahu banyak orang dipenggal. Termasuk kiai pesantrennya. Rumah-rumah dibakar. Harta digarong. Ia sendiri menyelamatkan diri dengan berlari menyusuri kebun-kebun tebu. Sesampainya di rumah, hanya kedua orangtuanya saja yang tinggal menangisi rumah mereka yang hangus.

Kemiskinan keluarga memaksanya merantau jauh entah ke mana. Yang ia pikirkan saat itu adalah mencari sesuap nasi. Ke mana kaki melangkah ke situlah ia turutkan kehendak. Mungkin secara tak sadar pula ia sampai di tempat itu. Sebuah daerah di pulau seberang yang jauh dari daerah asalnya di Jawa.

Tak ada yang tahu saat itu ia ke mana. Bapak-ibunya telah merelakannya jauh sebelum kepergiannya. Masa-masa sulit revolusi memaksa keduanya menyapih anaknya lebih cepat. Keduanya sadar, kalau anaknya menginginkan lebih, ia harus cari sendiri. Saat itu keduanya tak berpunya sama sekali.

Selama sepuluh tahun Marto muda menghilang. Kabarnya tak pernah terdengar di telinga kedua orangtuanya. Hanya saja keduanya yakin nasib baik akan berpihak pada anak mereka yang rajin itu. Apalagi ketekunan Marto anaknya tak hanya ketekunan mengumpulkan peluh-peluh demi sesuap nasi, tapi juga ketekunan mengabdi pada sang pencipta. Tak pernah sekali pun ia tinggalkan perintah agama untuk mengejar dunia. Demikian juga tak pernah ia langgar agama demi harta. Bukankah Allah telah menjamin setiap hamba yang patuh pada-Nya?

Baru setelah memiliki sepetak tanah, ia berkirim kabar lewat selembar surat. Sayang kabar baik itu terlambat datang. Kedua orangtuanya telah berpulang ke hadirat-Nya sebelum kabar itu tiba. Hanya saudaranya saja yang kemudian mengabarkan duka itu dalam balasan surat. Kabar gembira yang dijawab oleh berita duka!

Pak Marto sedih. Tapi ia tak mau terus larut dalam suasana duka. Pak Marto berkeyakinan itu semua sudah diatur oleh-Nya. Dan aturan-Nya adalah aturan yang paling baik buatnya, buat saudaranya, dan juga buat semua orang. Ia yakin itu.

Pak Marto memandang lagi pohon-pohon sawitnya. Senyum kebanggaan mengambang. Dua puluh tahun ia memakmurkan petak kebun miliknya. Dan telah berusia selama itu pula pohon-pohon sawitnya. Pohon itu kini sedang sangat bagusnya. Buahnya melebat. Berkat petak itu, yang ia tambah dengan membeli beberapa petak lagi, ia mampu membiayai ketiga anaknya. Ketiganya ia kirim ke Jawa untuk bersekolah dan kuliah sambil belajar agama pula di pesantren. Pak Marto merasa sangat bersyukur dengan semua yang diperolehnya.

Tak hanya itu. Berkat petak kebunnya, dengan beberapa tetangga ia membangun sebuah musala. Tak seberapa besar memang. Tapi itu amat berarti bagi masyarakat desanya yang kini mulai diramaikan oleh kehadiran beberapa perusahaan perkebunan dan jalan raya. Amat berbeda dengan pertama kali ia menginjakkan kaki di tempat itu yang gelap dan sepi sekali.

Keramaian desanya tak selalu mengundang hal yang baik. Malah bisa sebaliknya. Masyarakat mulai ada yang kenal tuak. Menenggaknya ramai-ramai setelah memanen tandan segar buah sawit dan mendapat uang dari hasil jualnya. Kedai-kedai kecil mulai pula menyediakan tuak itu. Keberpunyaan uang sering membuat orang lupa pada larangan-Nya memang. Pak Marto sedih melihat ini. Dalam kesendirian seperti di kebun atau di rakaat tahajud panjangnya, sering kali hal-hal seperti itu mengusik pikirannya. Pak Marto mengelus dada. Musala menjadi tempat mengadu pada Allah pada hal-hal yang tak ia rela.

Pak Marto segera membersihkan diri. Matahari telah mulai melintas ke barat. Membentuk bayang tipis di timur. Zuhur telah datang. Pak Marto menunaikan shalat di atas hamparan rumput kecil di bawah rindang kelapa sawit. Tak lupa syukur ia ungkapkan dalam-dalam. Atas berbagai nikmat yang telah Allah karuniakan atasnya.

***

MALAMNYA, setelah menunaikan salat Isya di musala, Pak Marto segera beranjak pulang. Di bawah terang lampu listrik yang hampir tiga tahun ini masuk ke desanya, ia makan bersama istrinya. Hanya berdua. Dengan lauk sederhana dan seadanya.

“Tadi ada surat dari Jogja,” sela istrinya sambil mengambil lalap daun singkong.

“Bagaimana kabar anak-anak?” Pak Marto balik bertanya.

“Semuanya baik-baik. Ali sekarang sedang KKN.”

“Ada berita dari pakde, tidak?”

“O, ya, pakde kirim salam. Katanya kita jadi berangkat tahun ini.”

“Jadi berangkat?” Suap nasi di tangannya terhenti sejenak.

“Heeh.”

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga panggilan Allah pada kita.”

“Alhamdulillah,” sahut istrinya pula.

Telah lama memang Pak Marto menginginkan berangkat ke tanah suci. Ia menabung sedikit demi sedikit untuk tujuan itu. Dan setelah tabungannya cukup, ia kirimkan uang itu pada saudaranya yang ada di Jogja. Pak Marto mendaftar haji dari sana. Ia ingin berangkat haji bersama saudaranya.

Hingga saat keberangkatan itu tiba, tak ada seorang pun tetangganya yang tahu kalau ia dan istrinya akan pergi menunaikan rukun Islam kelima. Ia rahasiakan memang. Semua warga hanya tahu kalau ia berangkat ke Jawa untuk melihat anak-anak mereka.

“Saya ingin mengunjungi anak-anak di Jogja. Rasanya sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Jadi kepergian kami kali ini agak lama,” pamit Pak Marto pada Pak Soleh tetangganya.

“Yah, mudah-mudahan Pak Marto dan ibu selamat sampai di tujuan,” doa Pak Soleh, “Jangan lupa sampaikan salam kami pada Ali, Siti, dan Fahmi.”

“Insya Allah.”

Tak seorang pun yang tahu. Dan Pak Marto pun tak berniat memberi tahu. Tetapi hendak menyembunyikan malah. Pak Marto tak ingin jika niat haji itu diketahui tetangganya, niatnya jadi tak lurus lagi. Sangat disayangkan tentu, jika ibadah yang membutuhkan biaya besar itu harus berakhir dengan kesia-siaan. Dan itu bermula dari niat yang tak benar. Atau niatnya awalnya memang sudah pas, tetapi kemudian ketika niat itu terkabarkan ia menyimpang. Pak Marto tak ingin seperti itu. Ia merasa belum sanggup memperlihatkan amalnya. Agar jadi contoh warga masyarakat, misalnya. Pak Marto merasa tak mampu itu. Apalagi dengan mengundang banyak warga untuk menghadiri keberangkatan hajinya. Ia takut pengajian-pengajian haji seperti itu salah tujuan: menjadi pamer bahwa ia bisa berhaji, dan sebentar lagi ia akan bergelar haji. Tak jarang bahkan orang yang telah berhaji marah jika tidak dipanggil dengan “pak haji”.

Pak Marto hanya ingin berhaji murni untuk tujuan meningkatkan iman dan takwa, bukan gelar atau derajat haji!

***

TELAH empat bulan Pak Marto meninggalkan desanya. Hari ini dengan sebuah mobil yang dicarter dari kota kecamatan ia bersama istrinya tiba di rumah. Tak ada simbol haji yang ia gunakan. Topi haji atau tas bertulis jamaah haji kloter sekian ia tinggalkan di rumah kakaknya di Jogja. Juga air zamzam atau batu permata khas Arab, tak ia bawa sedikit pun dari sana. Bukankah haji itu berarti menghilangkan simbol-simbol sebagaimana tersirat dari perintah memakai pakaian seragam yang jauh dari ketidaksetaraan, termasuk simbol yang membedakan antara yang sudah haji dengan yang belum?

Baru saja ia bersama istrinya membuka dan masuk rumah yang telah sekian lama mereka tinggalkan, Pak Soleh tetangganya datang tergopoh-gopoh.

“Pak Haji Marto, kapan datang?” kata Pak Soleh sambil menyalami Pak Marto dan Bu Marto bergantian.

“Saya belum haji.”

“Tapi Pak Haji Sulaiman yang setengah bulan lalu pulang dari tanah suci bilang kalau ia melihat Bapak dan Ibu di Mekkah.”

“Pak Haji Sulaiman mengatakan demikian?”

“Pak Haji Sulaiman mengatakan demikian.”

“Pak Haji Sulaiman pasti salah lihat. Wong saya cuma di Jogja. Kebetulan pakdenya anak-anak sedang punya hajat.”

“Jadi Pak Marto cuma dari Jawa?”

“Masak Pak Soleh tidak percaya sama saya.”

“Kalau begitu, ya barangkali Pak Haji Sulaiman yang salah. Maklum kalau sudah tua memang jadi sering salah lihat.”

Pak Marto tersenyum. “Mudah-mudahan itu doa Pak Haji Sulaiman agar saya dapat mengikuti jejaknya,” katanya kemudian.

Keduanya kemudian bercakap tentang situasi desa selama ditinggalkan Pak Marto. Sementara tak lupa Pak Marto mengabarkan perihal anak-anaknya yang sekarang sudah rindu pada kampung halaman.

“Oya, Pak Soleh, ini ada oleh-oleh dari Jawa,” kata Ibu Marto yang dari tadi cuma mendengarkan sambil mengeluarkan satu kotak penuh bakpia patuk dan wingko nangka oleh-oleh khas Jogja.***

Yogyakarta, Januari 2003

Dua Wajah Kekerasan


Judul : Pulau Cinta di Peta Buta
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Cetakan : Pertama, Juli 2003
Penerbit : Jendela, Yogyakarta
Tebal : xii + 177 halaman

Judul : Parang Tak Berulu
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Cetakan : Pertama, Mei 2005
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 182 halaman


TIADA HARI tanpa kekerasan. Kekerasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita. Di televisi, koran, kita membaca dan menyaksikan seorang preman menghajar korbannya hingga babak belur, seorang anak membakar ayahnya hidup-hidup hanya karena sang ayah tak kunjung sembuh dari sakitnya, nun jauh di sana sekelompok tentara dari suatu negara membombardir wilayah dari negara lain, dan seterusnya….
Kekerasan yang bergentayangan di ranah realitas itu banyak mengispirasi sastrawan yang mengabadikannya dalam karya-karyanya. Sastrawan tidak sekadar meceritakan kekerasan itu apa adanya, tapi menyuguhkan tafsir atasnya. Dengan tafsir sastrawan, menurut teori mimesisnya Paul Ricoeur (mimesis-2 atau konfigurasi), peristiwa kekerasan tidak berlalu begitu saja, tapi menjadi suatu media bagi sebuah pembelajaran.
Salah satu sastrawan yang banyak menyuguhkan kekerasan sebagai tema dalam karyanya adalah Raudal Tanjung Banua. Dua kumpulan cerpennya, yaitu Pulau Cinta di Peta Buta (2003) dan Parang Tak Berulu (2005) menyuguhkan kekerasan dengan dua wajah yang berbeda.
***
PULAU CINTA di Peta Buta berisi delapan belas cerita pendek. Cerpen pembuka “Elegi Kantor Pos” menjadi alasan Raudal menyuguhkan tema-tema kekerasan di dalam cerpen-cerpennya. Di dalam cerpen itu, sang tokoh “aku” bertemu dengan seorang gadis di kantor pos yang menawarkan menjilat prangko surat yang akan ia kirim.
“Aku mengirim cerita ke koran-koran,” kata tokoh “aku”, yang barangkali adalah Raudal sendiri. Kata sang gadis, “Oh, betapa menyenangkan… Tentu kau akan menulis tentang negeri yang rakyatnya miskin dan lapar, sekarat dihajar dendam dan pertikaian…?”
Kata-kata sang gadis membuat “aku” malu dan merasa bersalah. Betapa tidak, selama ini, “Ceritaku hanya tentang negeri yang penuh warna. Keluarga bahagia. Percintaan Cinderella.” Cerita yang ia tulis seperti prangko yang, kata sang gadis, “hanya mengabadikan keindahan semata-mata, kekayaan alam, flora dan fauna, prestasi atau hasil-hasil pembangunan. Mengapa tidak yang lain? Begitu banyak kepahitan, semua terlupa.” Perjumpaan dengan sang gadis membuat “aku” menulis “cerita yang bertolak-belakang” dengan cerita-ceritanya sebelumnya, cerita tentang kekerasan.
Maka di dalam kumpulan cerpen itu kita temukan berbagai wujud kekerasan bergentayangan. Cerpen “Lengking Pilu Terompet Waktu” berkisah tentang seorang anak bernama Naomi yang “merayakan” malam pergantian tahun baru bersama kakeknya. Mama Naomi, seperti biasa, pergi “semalam”—kecuali kalau ke luar kota—bersama taksi warna pelangi. Papanya? Naomi tidak tahu di mana. Maka ketika kakeknya bertanya tentang impiannya pada tahun mendatang, Naomi bilang impiannya, “Tentang papa. Tentang hidup bersama. Berbahagia.”
Mendengar harapan cucunya, sang kakek tak tahan. Ia keluarkan sebuah kalender lusuh-tua, kalender tujuh tahun lalu. Di bulan Desember hari terakhir kalender itu, ada lingkaran merah. Itulah tanggal ketika, “Lelaki yang baik, menantu yang setahuku tak pernah berbuat jahat, tapi pada angka berlingkar merah itu justru diculik, dibawa pergi segerombolan lelaki lain, sampai kini tak kembali.” Di akhir cerita, Mama Naomi yang pergi kembali dengan terluka, berdarah-darah. Terompet tahun baru Naomi pun melengking pilu.
Penculikan juga bisa ditemukan dalam cerpen “Bis Berhenti di Kampung Lengang” dan “Truk Berderak Membelah Malam”. “Bis Berhenti di Kampung Lengang” bercerita tentang sopir bis yang menghentikan bisnya di kampungnya yang dibelah jalan lintas. Dia berhenti karena tak tahan rindu dengan orangtuanya. Padahal, sejak beberapa lama kampung itu sering disisir aparat yang datang dari pangkalan di utara untuk mencari pengkhianat. Dan sopir itu pun dikepung saat berhenti di depan rumahnya pada tengah malam.
Sementara “Pulau Cinta di Peta Buta” yang menjadi judul kumpulan cerpen, bercerita tentang harapan anak bernama Liana. Saat diberi pekerjaan rumah (PR) dari gurunya untuk menggambar salah satu pulau di Indonesia, Liana semula ingin menggambar pulau Halmahera. Di pulau tersebut keluarganya pernah tinggal dan akhirnya terpencar. Ayah dan kakaknya dibawa sekelompok orang entah ke mana. Liana akhirnya menggambar pulau berbentuk hati, pulau cinta, walaupun jelas tak ada di peta Indonesia.
Kekerasan bergentayangan di cerpen-cerpen dalam kumpulan ini. Senjata, parang, darah, aparat, penculikan, luka, bisa dengan mudah ditemukan hampir di tiap lembarannya.
***
MESKIPUN BERTAJUK Parang Tak Berulu, kekerasan di dalamnya tidak disuguhkan seperti dalam Pulau Cinta di Peta Buta. Di dalam cerpen “Parang Tak Berulu” parang tidak digunakan menebas atau mengintimidasi orang lain. “Parang tak berulu” adalah istilah adat suatu kampung bagi perempuan yang tak lagi punya suami. Gondan, seorang perempuan menikah dengan seorang laki-laki yang asal-usulnya tak jelas, bernama Jibun. Mamak-nya tak restu. Meski bertahun-tahun Jibun sudah berusaha “mengambil hati” sang mamak, dengan memanjakan istri dan anaknya, Gombak, membangun rumah sendiri, tapi hati Mamak Sutan Mangkudu tetap bersikukuh tak restu. Tak tahan dengan perlakuan sang mamak, Jibun memilih mundur dengan menceraikan Gondan.
Lalu suara-suara penduduk kampung pun riuh. Gondan yang dulu dimanja kini harus bekerja keras menghidupi Gombak. Dia bekerja membelah kayu untuk dijual. Saat membelah kayu itulah, parang yang ia gunakan lepas dari ulunya. “Parang tak berulu” yang mulanya istilah, kini hadir jadi kenyataan. Dan baik Gondan maupun Gondam tak bisa memberi ganti ulu yang lain, karena keduanya tak pernah belajar membuat ulu sewaktu Jibun masih bersama mereka. Mereka terpaksa tebal telinga mendengar suara-suara penduduk yang makin riuh.
Cerpen lain dengan bentuk kekerasan serupa adalah “Ranah Berkabut”, yang berkisah tentang Upik yang punya dua pusar-pusar (uyeng-uyeng) di kepala. Konon, setiap orang yang punya dua pusar-pusar berbakat jadi peternak. Maka kemudian Upik tidak disekolahkan, berbeda dengan kakaknya Kandik yang hanya berpusar-pusar satu, disekolahkan hingga ke sekolah tentara. Sejak belia Upik sudah disuruh menggembalakan ternak milik keluarga dan juga tetangganya. Ternaknya memang membiak banyak. Tapi Upik menderita karenanya, terlebih ayahnya suka menjual ternak sembarangan untuk berjudi, begitu juga kakaknya.
Begitu juga cerpen “Perempuan yang Jatuh dari Pohon”. Cerpen ini berkisah tentang Hindun yang suka memanjat pohon, terjatuh. Dan warga mempercayai, perempuan jatuh dari pohon adalah aib. “Konon, perempuan yang jatuh dari pohon, bila sakit, sakitnya tak akan diobati; bila mati, matinya tak akan disembahyangkan!” Karena itu setiap ibu pasti melarang anak perempuannya memanjat pohon.
Tapi Hindun amat suka memanjat. Meski mulut ibunya berbuih melarang, ia akan tetap memanjat pohon yang ia senangi. Hingga tiba hari nahas itu, Hindun terjatuh. Karena kepercayaan, Hindun hanya diobati sekadarnya hingga mati dan tak disembahyangkan.
Cerpen dengan judul puitis “Batang Pinang Batang Pisang, Kenangan Terus Memanjang” bercerita tentang Bualis yang dipasung dengan batang pinang, dengan sandaran kaki dan tubuhnya adalah batang pisang. Bualis adalah cucu seorang kepala aktivis tani, yang rumahnya dipasang “bendera dan umbul-umbul, bergambar bintang dan alat tani.” Begitu pula ayahnya, yang jadi tumpuan para petani sebab menguasai seluk-beuk patok tanah dan irigasi. Suatu malam, sekelompok orang mendatangi rumah Bualis dan membunuh ayah serta kakeknya, “sehubungan sebuah peristiwa penting di ibukota.”
Bualis pandai memanjat. Setiap perayaan tujuhbelasan, dia selalu jadi pemenang lomba panjat pinang. Tapi banyak oang tak senang, dan mengumpatnya, “Dasar anak kepala gerombolan!”, “Dan cucu gerombolan!” Perilaku Bualis pun lama-kelamaan berubah. Ia memanjat setiap pinang dan mengambil buahnya, tak peduli sudah ranum atau masih putik, milik keluarganya atau bukan. Karena perilaku itu, Bualis akhirnya dipasung dengan batang pinang dan pisang.
***
DILIHAT DARI bentuk dan sifatnya, kekerasan dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, kekerasan dengan bentuknya yang telanjang, kasar, bengis. Ini model kekerasan anarkis. Kekerasan jenis ini, meminjam teorinya Louis Althusser, muncul dari sebuah pendekatan represif. Bila dilakukan oleh negara, ia lahir dari tangan aparat represif atau repressive state apparatus (RSA).
Kekerasan model itulah yang tampak di dalam cerpen-cerpen dalam kumpulan Pulau Cinta di Peta Buta. Senjata, parang, darah, luka, banyak mucul di sana. Peristiwa seperti penculikan oleh aparat, kerusuhan Halmahera, tragedi Aceh, menjadi inspirasi Raudal untuk mencatatkannya dalam cerita.
Kedua, kekerasan dengan bentuknya yang santun, tertutup, dan halus. Dalam pandangan biasa, ia tampak tidak seperti kekerasan. Tentu saja agar tak terlihat, kekerasan ini dilakukan dengan sangat rapih, direncanakan matang. Kekerasan ini disebut juga kekerasan simbolik, yang berlindung atas nama simbol-simbol seperti simbol bahasa, adat, dan ideologi. Simbol-simbol itu juga dianut oleh korban, sehingga korban tak menyadari kehadirannya. Negara melakukan kekerasan jenis ini melalui tangan aparat ideologis (ideological state apparatus atau ISA dalam bahasanya Althusser).
Kekerasan simbolik kita temukan di dalam cerpen-cerpen dalam kumpulan Parang Tak Berulu. Simbol adat seperti dua pusar-pusar digunaan sebagai pembenar oleh sang ayah untuk melakukan kekerasan terhadap Upik. Demikian pula, mitos perempuan jatuh dari pohon dijadikan alasan untuk tidak mengobati dan mensalatkan Hindun, dan kekerasan bahasa “anak gerombolan” didengung-dengungkan hingga perilaku Bualis berubah aneh.
Kekerasan simbolik itu, di dalam cerpen-cerpen Raudal, hendak dipatahkan dengan perlawanan terhadap simbol. Tokoh Gombak di dalam “Parang Tak Berulu”, misalnya, saat suara-suara yang menyebut ibunya sebagai “parang tak berulu” kian berdengung, bertekad membuat ulu parang sendiri. Namun demikian, perlawanan itu jatuh di hadapan kekuatan dan keperkasaan simbol. Yang terjadi kemudian cerpen-cerpen dalam Parang Tak Berulu semakin meneguhkannya. Gombak misalnya tidak mampu membuat ulu parang yang kuat. Demikian pula, Hindun yang akhirnya mati akibat jatuh dari pohon.
Terlepas dari itu, Pulau Cinta di Peta Buta dan Parang Tak Berulu menyuguhkan dua wajah kekerasan yang berbeda. Apakah keduanya bisa disebut sebagai periode kepengarangan Raudal? Cerpen-cerpen dalam Pulau Cinta di Peta Buta yang dibuat pada awal kepengarangannya hingga 2003, mengangkat kekerasan dengan wajahnya yang telanjang; sementara cerpen dalam Parang Tak Berulu yang dibuat pada 2003 hingga 2005, merupakan periode lanjutannya, menyajikan cerita dengan kekerasan simbolik.
Saya teringat sebuah tulisan Raudal saat dia menjadi salah satu juri Lomba Cerpen Mahasiswa se-Jawa oleh Majalah Balairung UGM yang dimuat dalam Risalah Kekerasan: Kumpulan Cerpen Terpilih Balairung 2004. Di sana Raudal “mengeluhkan” bagaimana tema kekerasan yang ditawarkan panitia lomba, diterjemahkan oleh para peserta dengan mentah sebatas kekerasan yang kasat mata. Kalau demikian, barangkali, Parang Tak Berulu mengoreksi kumpulan cerpennya sebelumnya yang banyak mengangkat kekerasan model itu. Raudal ingin menunjukkan bahwa kekerasan juga punya wajah lain, wajahnya yang santun, namun tak kalah bengis dan membunuh.[]