Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Apa Itu Otoritas Religius?



JUDUL DI atas adalah terjemahan dari judul utama buku Ismail Fajrie Alatas atau Habib Ajie, What is Religious Authority? Cultivating Islamic Communities in Indonesia (Princeton Univ Press, 2021). Buku tersebut membahas tentang Habib Luthfi bin Ali Yahya, seorang ulama dan pemimpin tarikat terkemuka di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa sang habib bisa punya otoritas? Bagaimana otoritas tersebut dibangun? Apa sih sebetulnya otoritas itu?

Didiskusikan oleh beberapa pusat studi yang konsen dengan kawasan Indonesia dan Asia Tenggara, What is Religious Authority? mendapatkan banyak pujian dari para sarjana. Robert Hefner, misalnya, menyebut buku Ajie sebagai “salah satu buku terpenting tentang Islam di Indonesia” dan “menjadi referensi pokok bagi semua pengkaji Islam dan otoritas keislaman.”

Perdebatan tentang otoritas tentu saja bukan hal baru. Banyak orang mengaitkannya dengan karisma, istilah yang mengingatkan kita pada sosiolog Max Weber. Dalam hal kepemimpinan, kata Weber, karisma lahir karena adanya kebutuhan dan aspirasi yang belum terpenuhi oleh kenyataan. Ketundukan dan kepatuhan kepada pemimpin, karena itu, disebabkan anggapan bahwa dia mampu merealisasikan kebutuhan dan aspirasi yang tertunda tersebut. Anggapan kemampuan itulah yang disebut karisma. Otoritas kira-kira mirip seperti itu.

Para filsuf posmodernis Prancis juga sering dikutip terkait otoritas. Dua di antaranya adalah Michel Foucault dan Roland Barthes. Kalau yang pertama menulis “What is an Author?”, yang kedua mengarang “Author is Dead”. Dalam tulis-menulis, sering kali dikatakan bahwa author (sering diartikan pengarang, tapi tidak sekadar itu) adalah orang yang paling tahu atas sebuah karya. Jika kita bingung membaca buku atau teks, misalnya, kita tanya saja pengarangnya. Dialah yang dianggap punya otoritas atas karyanya. 

Sebagai posmodernis, Foucault dan Barthes tentu saja risau dengan kenyataan itu. Gak boleh dong ada yang berkuasa atas teks. Sebaliknya, semua orang seharusnya setara di hadapan teks. Kata Barthes, “kelahiran teks mesti dibayar dengan kematian author.” Jadi, author harus dimatikan, harus dibunuh!

Tapi siapakah author itu? Menariknya, dia bukan (hanya) pengarang. Dalam banyak kasus, author itu justru bukan pengarang, melainkan pembaca yang berusaha menguasai tafsir atas teks. Masih ingat kan kasus novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang disebut oleh Orde Baru sebagai kiri dan, karena itu, dilarang beredar? Bukan Pram yang punya otoritas bicara atas karyanya, tapi tafsir Orde Baru yang dipaksakan harus diterima. Orde Baru adalah sang author, yang menggenggam atau merampas authority.

Atau, dalam kasus kitab suci, meskipun tahu bahwa yang punya otoritas atasnya adalah Tuhan, kita sering memaksakan tafsir kita atau tafsir tertentu supaya diterima semua orang. Diam-diam, kita ingin menjadi sang otoritas atas kitab suci. 

Dari banyak teori tentang otoritas, Ajie mendasarkan argumennya pada teorinya Hannah Arendt. Menurut Arendt, “otoritas adalah suatu relasi hierarkis yang mengkoneksikan satu kelompok masyarakat dengan masa lalu yang mereka yakini sebagai mendasar (foundational). Relasi itu kemudian memberikan kemampuan kepada mereka yang punya otoritas untuk menyambungkan dan mengubah masa lalu itu menjadi model atau contoh bagi masa kini.”

Jadi ada tiga unsur pembentuk otoritas. Pertama, gagasan tentang dan koneksi ke foundational past. Kedua, kapasitas untuk mengubah yang foundational menjadi model. Ketiga, kemampuan menghasilkan kepatuhan tanpa paksaan.

Di dalam kasus Habib Luthfi dan Islam secara umum, masa lalu yang foundational tersebut tentu saja adalah kehidupan Nabi Muhammad atau masa Islam awal. Koneksi dengan masa lalu yang foundational itu tidak saja dibangun oleh Habib Luthfi melalui silsilah atau nasab, melainkan juga sanad keilmuan yang tersambung ke Nabi.

Jika hidup Nabi di dalam Islam disebut sunnah, maka sunnah menjadi mode of action bagi Habib Luthfi. Agar tidak saja menjadi cerita masa lalu, sunnah harus diterjemahkan dan dihidupkan pada masa kini melalui upaya membayangkan dan menumbuhkan jamaah atau komunitas (cultivating communities; lihat anak judul buku ini. Istilah “membayangkan komunitas” tampak dipengaruhi Benedict Anderson: imagined community). 

Dalam menghidupkan sunnah itu, Habib Luthfi memerankan apa yang kemudian disebut sebagai articulatory labor atau kerja artikulasi. Di sini, sang habib menjadi jembatan yang menghubungkan antara sunnah dan jamaah: mengubah yang foundational menjadi model riil. Kerja artikulasi itu tidak hanya sekali dilaksanakan dan langsung jadi, tapi harus terus-menerus ditumbuhkan dan dirawat. Kontinuitas tersebut yang nanti menghasilkan kepatuhan.

Mengenai pentingnya kerja artikulasi, Ajie menyebut bahwa “salah satu cara untuk memahami Islam sebagai kenyataan sejarah dan sosiologis adalah dengan menempatkan Islam sebagai hasil dari kerja artikulasi.”[] 

Aljunied dan Majul



SAYA KIRA, dari banyak sarjana sosial Asia Tenggara yang produktif menelurkan karya-karya akademik, Khairudin Aljunied yang paling prolifik. Saya mengikuti karya-karyanya sejak beberapa tahun terakhir, dan tak ragu untuk menyebut demikian. 

Di samping menulis banyak artikel di jurnal-jurnal penting bereputasi, Aljunied juga nyaris setiap tahun menulis buku utuh yang dipublikasikan oleh penerbit-penerbit terbaik di dunia: Muslim Cosmopolitanism: Southeast Asian Islam in Comparative Perspective (Edinburg Univ Press, 2017); Hamka and Islam: Cosmopolitan Reform in the Malay World (Cornell Univ Press, 2018); Islam in Malaysia: An Entwined History (Oxford Univ Press, 2019); dan Shapers of Islam in Southeast Asia: Muslim Intellectuals and the Making of Islamic Reformism (Oxford Univ Press, 2022). Dosen National Univ of Singapore (NUS) Singapura itu juga penyunting Routledge Handbook of Islam in Southeast Asia (Routledge, 2022).

Tulisan-tulisan Aljunied khas. Dia barangkali tidak mengajukan topik “baru”, melainkan memunguti hal-hal lama yang sudah dilupakan banyak peneliti, lalu mengajukan interpretasi baru atasnya. Topik-topik itu berpusat pada tokoh-tokoh Muslim yang memberikan pengaruh pada Islam di Asia Tenggara, misalnya Hamka, Zakiah Daradjat, Harun Nasution, dan Kuntowijoyo—untuk menyebut beberapa subjek risetnya yang berasal dari Indonesia.

Siapakah lagi di antara sarjana Indonesia yang membaca karya-karya para tokoh tersebut? Adakah lagi buku-buku seperti Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya karya Harun Nasution atau Ilmu Jiwa Agama karangan Zakiah Daradjat dijadikan pegangan dan dipelajari oleh mahasiswa dalam ruang-ruang perkuliahan di perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI)? Atau Tasawuf Modern-nya Hamka? Paradigma Islam-nya Kuntowijoyo? Sekali lagi, kita mungkin telah melupakan mereka.

Aljunied memunguti yang terlupakan itu dan menekuninya. Hasilnya dia tulis dalam banyak jurnal penting dan buku yang wah. Tapi untuk apa? Di dalam sebuah seminar yang saya ikuti, Aljunied bilang bahwa motivasinya menulis karya-karya adalah untuk memberikan narasi baru tentang Islam di Asia Tenggara. Narasi baru itu penting karena narasi tentang Islam Nusantara yang ada, menurut Aljunied, bermasalah, yakni memandang Islam Melayu inferior dibandingkan Islam di Arab. Di samping itu, banyak narasi melihat Islam di Asia Tenggara saat ini lebih radikal, konservatif, dan tertutup. Aljunied berusaha melawan itu. Meskipun juga mengakui bahwa radikalisme dan konservatisme ada, menurutnya, dari perspektif kehidupan sehari-hari (everyday life), Islam Melayu adalah terbuka.

Untuk mengungkap sikap terbuka itu, Aljunied menamakan proyeknya dengan Islam kosmopolitan. Dia lalu menggali nilai-nilai kosmopolitanisme itu melalui Islam yang dipraktikkan oleh masyarakat Asia Tenggara. Bagi fellow dan profesor di Universiti Brunei Darussalam itu, Islam tidak bisa dipandang hanya dari gagasan yang berkembang dari dan di Arab, tapi juga yang hidup di wilayah lain, termasuk Asia Tenggara.

Dengan proyek Islam kosmopolitan tersebut, Aljunied lalu menggali gagasan-gagasan keislaman para tokoh yang telah disebutkan sebelumnya, di samping tentu saja para tokoh dari Malaysia dan Singapura. Di dalam buku terbarunya, Shapers of Islam in Southeast Asia, Aljunied bahkan menyertakan pengusung Islam kosmopolitan dari Filipina, negara yang sering memiliki “problem Islam”, terutama karena pemeluk Islam merupakan minoritas di sana, yakni Cesar Adib Majul.


Meskipun buku Majul, Muslims in Philippines, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1989 dan bisa dijumpai di perpustakaan, saya tidak menyadari pentingnya tokoh tersebut. Majul lahir sebagai pemeluk Kristen Ortodoks dan menempuh pendidikan di Univ of the Philippines-Diliman untuk meraih sarjana dan master, sebelum melanjutkan ke jenjang doktoral di Cornel University. 

Majul adalah intelektual-cum-aktivis. Sewaktu menjadi mediator antara pemerintah Filipina dan Fron Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Majul memeluk Islam dan mendalaminya. Di Diliman, dia mendirikan Institut Studi Islam. Namun, setahun setelah diangkat menjadi profesor, Majul justru mengundurkan diri dari Diliman dan pindah ke Amerika. Kebijakan tangan besi pemerintah Filipina terhadap Moro ditengarai menjadi pemicunya.

Sebagai intelektual, Majul menulis lebih dari 150 artikel dan puluhan buku. Minatnya luas. Menurut Julkipli Wadi, sebagaimana dikutip Aljunied, karya Majul dapat dibagi menjadi empat kategori topik: (1) filsafat dan logika, (2) Filipina, (3) studi Asia serta pemikiran dan sejarah Islam, (4) spiritualitas Islam dan tafsir Alquran.

Saya lantas coba menelusuri topik keempat. Saya kira yang disebut tafsir adalah karya terakhir Majul, berjudul Remembrance and Forgetfulness in the Holy Qur’an, yang diselesaikan beberapa saat sebelum meninggal pada 2003. Buku lain yang mendekati kategori tersebut tampaknya Islam and Conflict Resolution: Theories and Practices. Ditulis bersama Salmi dan Tanham, buku itu banyak didasarkan pada sejarah Islam awal serta pandangan pemikir Islam baik klasik maupun kontemporer. 

Membaca Majul dan Aljunied menyadarkan bahwa ada banyak tokoh dan pemikiran penting di sekitar kita yang bisa dikaji (-ulang) dan ditulis. Setidaknya para tokoh tersebut dan karyanya tidak dilupakan, tapi dipelajari lagi di kelas-kelas kuliah. Terkhusus Majul, tafsirnya bisa diteliti di jurusan terkait. Jadi keluar sedikit dari pakem mempelajari tafsir karya ulama Timur Tengah atau tafsir Indonesia, studi tafsir bisa beranjak ke atau menambahkan pemikir atau ulama Asia Tenggara. Nuansanya bakal beda. Di banyak kampus PTKI, rasanya itu perlu, terutama untuk beringsut dari jebakan “the living….”[]

Luhmann dan Saussure


Niklas Luhmann (Sumber)

SAYA INGIN membandingkan teori sistem menurut Niklas Luhmann dengan teori bahasa yang dikembangkan linguis Ferdinand de Saussure. Alasan saya, pertama, sebagaimana nanti akan saya sampaikan, terdapat persamaan-persamaan dalam kedua teori mereka. Beberapa kata kunci bahkan identik dan nyaris sama persis. Kedua, kalau Luhmann berbicara dalam konteks sistem masyarakat, teori bahasa Saussure belakangan juga banyak dikembangkan untuk membaca sistem sosial dan digunakan juga dalam sosiologi dan antropologi. Ketiga, Luhmann menyebut komunikasi sebagai inti dari atau hakikat masyarakat, padahal bahasa adalah fundamen dalam komunikasi.

Menurut Luhmann, masyarakat terdiri atas sistem-sistem. Sistem itu tidak satu, tetapi banyak sekali, terlebih di dalam masyarakat modern. Diferensiasi adalah kata kunci untuk memahami banyak sistem yang berbeda-beda tersebut. Di dalam sistem yang banyak itu, seseorang bisa masuk ke dalam sebuah sistem, bertahan, keluar, dan berpindah ke sistem lain. Begitu seterusnya. Dinamika seseorang untuk berada di dalam satu sistem dan bertahan dari sistem lain dijelaskan melalui autopoietic, cara penyaringan buka-tutup yang bersifat biologis dan, saya kira, psikologis. Kata-kata kunci dalam teori Luhmann ini yang akan saya bandingkan dengan bahasa.

Di dalam pandangan Saussure, bahasa memiliki sistem-sistem. Dia membedakan tiga dimensi bahasa: langage atau bahasa manusia secara umum; langue atau bahasa sebagai sistem; dan parole atau bahasa sebagai ujaran pribadi (speech). Tentu saja dari ketiganya, langue yang paling cocok untuk dibandingkan dengan sistem masyarakat. Pertanyaannya, apa itu (sistem) bahasa? Menurut Saussure, bahasa adalah lambang bunyi yang arbitrer dan konvensional. Menariknya, arbitrary dan konvensi juga muncul dalam kosakata Luhmann ketika dia menjelaskan tentang kontingensi ganda: seseorang berkomunikasi dengan banyak sekali pilihan (arbitrer) tetapi dia mesti mempertimbangkan penerima atau komunikan (Ritzer, 2002: 361). Di sini jelas ada konvensi antara komunikator dan komunikan.

Dinamika seseorang di dalam sistem bahasa inilah yang dijelaskan melalui parole. Seseorang memang berada di dalam sistem, tetapi ketika berbahasa dia juga punya atensi pribadi. Di dalam teori Luhmann, seseorang memang tunduk di dalam sistem, tetapi dia selalu dalam tegangan relasi dengan sistem lain atau lingkungannya. Di sini dia kemudian bisa mengembangkan sistem miliknya atau bahkan beralih ke sistem lain. Ketika bertahan di dalam sebuah sistem, orang ini menggunakan cara autopoietic; bahwa seseorang secara alamiah punya cara sendiri untuk mengambil tawaran-tawaran lain dari lingkungannya atau bertahan di dalam sistemnya. Ritzer (2002: 362) menjelaskan proses ini melalui tiga kata kunci: variasi, pemilihan, dan stabilisasi. Dalam tegangan antara bertahan di dalam sistem atau berpindah ke sistem lain inilah sebuah sistem bisa berkembang (dan nanti distabilkan), karena setiap individu di dalamnya punya banyak referensi dari lingkungan untuk dimasukkan ke dalam sistemnya. Ini persis parole atau speech dalam bahasa. Terkait speech ini, kutipan dari Luhmann (via Lee, 2000: 326) berikut penting dikemukakan karena sangat Saussurean sekali:

"Speech possesses its very own form. As a form with two sides it emerges from the difference between sound (Laut) and meaning (Sinn)... Spoken communication is the processing of meaning within the medium of sound.... In order to construct the difference between medium and form within speech itself, the medial substrate of speech, the difference between sound and meaning, must be underspecified. Without underspecification there would be nothing left to say because everything would already have been said. This problem is solved with the difference between words and sentences. Words are also constellations of sounds with meaning; but they do not determine the sentences that they can produce when combined.... With the help of speech, one may say something that has never been said before." (cetak miring dari Luhmann, 213-5).

Persoalannya, kalau kemudian yang diambil oleh seseorang itu lebih banyak dari luar, dengan sendirinya dia akan terdiferensiasi dari sistem lama dan membuat atau masuk ke dalam sistem yang baru. Sekali lagi difference! Di dalam linguistik Saussurean, prinsip difference inilah yang membuat kata bermakna. Kata “makan” bermakna bukan karena referensi di belakangnya (setiap kata tidak punya hubungan langsung dengan referensi, sehingga setiap sistem bahasa bisa berbeda-beda menyebut sebuah benda yang sama), tetapi karena dia berbeda dari “makam”, “malam”, “macan”, dst. Makna muncul karena prinsip perbedaan atau distingsi atau oposisi, yang nanti menyumbang sebuah teori penting dalam ilmu sosial, yaitu oposisi biner. Bandingkan dengan Luhmann yang dikutip Lee ketika menjelaskan tentang media: “A specific binary code produces the meaningful form (difference)... autopoietic system operating according to its own binary distinctions (forms)....”

Prinsip perbedaan bukan hanya ada di dalam sebuah sistem bahasa. Bahasa yang berbeda—ada banyak sekali bahasa—pada dasarnya adalah sistem-sistem bahasa yang berlainan. Seseorang bisa menggunakan satu sistem bahasa dan masuk ke sistem bahasa yang lain. Luhmann mungkin akan menyebutnya sebagai autopoietic, yang kata Lee disumbang dari biologi. Dalam teori bahasa Saussure, orang menggunakan bahasa bahkan sudah dalam tahap di luar kesadaran; bawah sadar yang bermain—jadi psikologis.[]



Ferdinand de Saussure (Sumber)

Bibliografi Transmigrasi, Karet, dan Patrice Levang



MEMAHAMI JAMBI tentu saja tak lengkap bila tidak melihat penduduknya yang beragam. Bagaimana keragaman bisa terjadi? Salah satunya melalui perpindahan penduduk. Proses masuknya penduduk ke Jambi ada dua: transmigrasi spontan atau swakarsa dan transmigrasi umum yang dibiayai pemerintah, yang sering disebut transmigrasi saja. 

Sebagai salah satu daerah tujuan transmigrasi, Jambi kedatangan banyak penduduk terutama dari Jawa sejak 1968/1969 yang merupakan transmigrasi pertama. Sejak itu, banyak catatan atau terbitan yang berkenaan dengan transmigrasi di Jambi, terutama yang diterbitkan oleh Dirjen Transmigrasi. Hingga tahun 1978, setidaknya terdapat 24 kepustakaan tentang transmigrasi di Jambi. Berikut daftar kepustakaan itu sebagaimana dicatat dengan sangat baik oleh Paul E. Meyer dan Colin MacAndrews di dalam buku Transmigration in Indonesia: An Annotated Bibliography (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1978):

======================================================== 
  • Abbas Tjakrawiralaksana, Ali M.A. Rachman, dan E. Kusumah, Pengembangan dan Perluasan Daerah Transmigrasi di Rantau Rasau, Propinsi Jambi, 1975-1980 (Bogor: IPB dan Dirjen Transmigrasi, 1975).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Laporan Team Survey Projek-projek Transmigrasi dan Koperasi Pelita I di Djambi, (Jakarta: 1972).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Perencanaan Pengembangan Wilayah Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang dan Kecamatan Tebo Ulu (Jakarta: 1976/1977).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Pengembangan Usaha Tani Skala Mikro Unit I Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang (Jakarta: 1976).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Analisa Supply-Demand Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang Unit I Propinsi Jambi (Jakarta: 1976).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Perencanaan Pengembangan Permukiman di Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang Kabupaten Bungo Tebo (Jakarta: 1976).

  • Departemen Transmigrasi dan Koperasi Indonesia, Perencanaan Pengembangan Administrasi Pemerintahan di Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang (Jakarta: 1976).

  • Direktorat Jenderal Transmigrasi, Laporan Survey Explorasi Proyek Transmigrasi Rantau Rasau, Propinsi Jambi, (Jakarta: 1973).

  • Jawatan Transmigrasi Pusat, Lampiran Laporan dari: 1. Kep. Inspeksi Trans. Djawa Timur, 2. Seksi Penjelidik Djawa TRM, 3. Kep. Bag. Agraria Sum. Tengah. Hal: a) Daerah-daerah Kolonisasi yang Ditinggalkan oleh Penduduknya (Air Bangis dan Tabir) dan b) Vrijwillige Transmigrasi (Jakarta: 1952).

  • Institut Pertanian Bogor, Laporan Survey ke Daerah Pasang-Surut Rantau Rasau (Djambi), (Bogor: 1969).

  • Institut Pertanian Bogor, Pernyataan Proyek Penelitian dan Pembinaan Masyarakat di Daerah Transmigrasi Pasang-Surut, Propinsi Jambi (Bogor: 1974).

  • Institut Pertanian Bogor, Laporan Survei Pengembangan dan Perluasan Daerah Transmigrasi di Rantau Rasau, Jambi, Tahap Ke-1. Survei Kepemimpinan Keorganisasian dan Bidang Perhatian Masyarakat Transmigrasi Rantau Rasau (Bogor: 1976).

  • Institut Teknologi Bandung, Final Report Master Plan Irigasi dan Drainase dari Delta Batanghari-Barangberbak (Pro. Jambi) (Bandung: 1970).

  • Direktorat Jenderal Transmigrasi Kantor Wilayah Jambi, Laporan Survey Identifikasi Calon Lokasi Transmigrasi Rimbo Bujang (Jambi: 1976).

  • Direktorat Jenderal Transmigrasi Kantor Wilayah Jambi, Monografi Proyek Transmigrasi Propinsi Jambi. 1. Rantau Rasau. 2. Singkut. 3. Rimbo Bujang, (Jambi: 1976).

  • Direktorat Jenderal Transmigrasi Kantor Wilayah Jambi, Laporan Survey Identifikasi Calon Lokasi Transmigrasi Muara Jernih (Jambi: 1976).

  • Direktorat Jenderal Transmigrasi Kantor Wilayah Jambi, Laporan Survey Identifikasi Calon Lokasi Transmigrasi Rantau Limau Manis (Jambi: 1976).

  • Direktorat Transmigrasi Jambi, Laporan Survey Explorasi Calon Lokasi Proyek Transmigrasi Non-Pasang-Surut (Jambi: 1974).

  • Direktorat Transmigrasi Jambi, Laporan Survey Proyek Transmigrasi Non-Pasang-Surut Lokasi Singkut, Kec. Sarolangun, Kab. Sarko untuk Perluasan Penempatan 500 KK Transmigrasi Tahun 1975-1976 (Jambi: 1975?).

  • Nursito, Sihombing, dan Dalmanto Resosoedarmo, Laporan Survey Explorasi Calon Proyek Transmigrasi 1. Singkut, 2. Kubang Ujo, Kabupaten Sarolangun Bangko, Jambi, (Jakarta: Direktorat Jenderal Transmigrasi, 1973).

  • Soekasdi, Perkembangan Proyek Transmigrasi Rantau Rasau, (Jambi: Direktorat Transmigrasi, 1975).

  • Soetijoadi, Ignatius J.S., Keadaan Areal Singkut, Lokasi Calon Penempatan Transmigrasi th. 1974/75-1976/77, Propinsi Jambi, (Jakarta: Direktorat Jenderal Transmigrasi, 1975).

  • Sunyoto dan M, Djaafar, Laporan Prasurvey Calon Proyek Transmigrasi Rimbo Bujang, Kecamatan Tanah Tumbuh, Kabupaten Bungo Tebo, Jambi, (Jakarta: Direktorat Jenderal Transmigrasi, 1973).

  • Syahur Haris, Analisa Ekonomis Proyek Persawahan Pasang Surut serta Transmigrasi di Rantau Rasau, Sungai Puding dan Sungai Pemusiran, Jambi (Fakultas Ekonomi UI dan Bappenas, 1974).
========================================================  

Daftar itu hanya memuat kepustakaan transmigrasi di Provinsi Jambi sampai 1978. Setelah tahun itu belum ada data. Membaca judul-judulnya, kepustakaan di atas jelas penting untuk mengetahui sejarah daerah-daerah seperti Rantau Rasau, Tanah Tumbuh, Singkut, Muara Jernih, Tabir, Rimbo Bujang, dll.

Di tangan orang-orang yang rajin seperti Patrice Levang, kepustakaan di atas akan sangat berguna. Patrice Levang adalah penulis buku Ayo ke Tanah Sabrang: Transmigrasi di Indonesia (Jakarta: KPG, 2003), yang aslinya berbahasa Perancis. Sayangnya, di buku itu Levang tidak mengulas transmigrasi di Jambi, tapi dia banyak bicara Metro (Lampung) dan Belitang (Sumatera Selatan) serta Kalimantan dan Sulawesi.



Berbicara tentang Patrice Levang, pada 2011, dia menjadi penyunting tamu untuk jurnal Forests, Trees and Livelihoods, Vol. 20, Issue 1 (2011) terbitan Taylor and Francis Group yang merupakan nomor khusus (special issue) tentang perkebunan karet di Bungo, Jambi. Di dalam nomor itu, semua artikel membahas tentang karet di Bungo. Rasanya belum ada daerah di Indonesia yang mendapat kehormatan dibahas khusus dalam satu nomor tersendiri kecuali Bungo, Jambi. Sayangnya, sekali lagi sayangnya, jurnal tersebut sampai saat ini belum ada di Jambi sehingga orang Jambi tidak bisa membacanya. 

Adakah yang bisa membantu?

Belajar Kepemimpinan dari Masjchun Sofwan

Sumber foto: KRM Kasiman

Berikut bagian “Penutup” buku  “Memori Masa Bhakti Gubernur KDH Tk I Jambi, 10 Desember 1984-10 Desember 1989” oleh Masjchun Sofwan, SH (MS), hlm. 357-363. Tidak semua bagian itu dimasukkan di sini, tetapi yang mungkin penting untuk diambil sebagai pelajaran dan diskusi. Di bagian ini MS tidak saja berkisah tentang apa yang terjadi selama dia memimpin Jambi, tetapi juga bagaimana semestinya seorang kepala daerah bekerja. Jadi, selain mengenang apa yang dilakukannya, di sini kita dapat sekaligus belajar darinya.

Sebuah blog tentang KRM Kasiman menyebutkan sebagai berikut (saya kutip panjang): 

“Maschun Sofwan lahir di Selorejo Blitar, pada 7 September 1927. Orang tua Maschun Sofwan adalah Imam Sofwan dan Siti Asiyah. Imam Sofwan, ayah Maschun Sofwan, adalah putra keempat dari Moerdinah... Masa kecil beliau dilalui di Selorejo, sebuah kota kecil jauh di sebelah timur Blitar.

“Pendidikan beliau adalah SD atau SNR di Selorejo selama 6 tahun kemudian melanjutkan di SMPN Blitar dan SMAN Malang. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Beliau juga pernah menjadi dosen UGM di Fakultas Hukum. Selain itu, beliau juga pernah menjadi Bupati Temanggung selama dua periode dan sebagai Gubernur Jambi selama dua periode.

“Beliau menikah dengan Prof Dr. Sri Soedewi, SH dan dari pernikahan beliau dikaruniai seorang putri bernama putri Ira Indira Kartini. Dalam perjalanan keluarga beliau, ternyata isteri beliau Prof. Dr. Srisudewi, SH dipanggil oleh Allah SWT lebih dahulu. Kemudian beliau menikah kembali dengan dengan Hj. Dra Juniwati. Hj. Dra Juniwati Maschun Sofwan ini saat ini aktif dalam organisasi politik.”

Selamat menikmati dan semoga berguna.
============================================================

Bab VIII
Penutup

Masa lalu mengandung masa sekarang, masa sekarang mengandung masa datang. Proses dalam falsafah itu berlaku juga dalam kehidupan pemerintahan. Apa yang telah saya lakukan dalam mengemban tugas dan fungsi selaku Gubernur Kepala Daerah, adalah merupakan mata rantai kelanjutan dan peningkatan tugas dan fungsi Gubernur yang terdahulu; dari Bapak Djamin Datuk Bagindo sebagai Residen, Bapak Mohammad Joesoef Singedekane, Bapak H. Abdul Manaf almarhum, Bapak R.M. Nur Atmadibrata almarhum sampai kepada Bapak Djamaluddin Tambunan, SH yang diselingi sebagai pejabat selama 3 bulan oleh Bapak Eddy Sabara.

Dasar-dasar kekaryaan yang telah beliau letakkan dan prestasi-prestasi yang beliau capai dalam memimpin rakyat dan Daerah Jambi telah saya lanjutkan dan kembangkan dalam dua kali masa bhakti yakni pada periode 10 Desember 1979-10 Desember 1984 dan 10 Desember 1984-10 Desember 1989.

Saya sepenuhnya menyadari bahwa pengalaman-pengalaman Gubernur pendahulu saya, mempunyai arti yang sangat besar dalam melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Gubernur Kepala Daerah. Bagi saya sesuai dengan isarat pepatah adat yang berbunyi: “Mengambil contoh kepada yang sudah, mengambil tuah kepada yang menang, mengamanatkan agar pengalaman-pengalaman beliau: kok berjalan dijadikan tongkat, kok tidur dijadikan bantal, sesat di ujung jalan kembali ke pangkal jalan.”

Memori ini adalah rekaman pengalaman dan pengamatan dalam bhakti saya yang kedua. Apa yang saya kerjakan dan sajikan di dalamnya tidak berpotensi memberi arah, tetapi sebagai informasi, pemikiran dan pandangan untuk mematangkan pertimbangan atau keputusan-keputusan berikutnya, yang dibutuhkan dalam membangun daerah Jambi.

Untuk seluruh yang saya kerjakan dengan segala corak dan warnanya saya serahkan penilaiannya kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Pusat serta seluruh masyarakat. Jika di dalam pekerjaan tersebut terdapat suatu yang dapat disebut sebagai prestasi, saya menganggap itu sebagai prestasi Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat. Karena itu seluruh hasil karya yang telah kita capai yang telah memberi arti bagi kehidupan rakyat, atas nama pendahulu saya, saya persembahkan kepada seluruh rakyat di daerah ini. Kegagalan ataupun ketidakberhasilan saya dalam mewujudkan cita-cita dari pembentukan Propinsi ini adalah tanggung jawab saya.

Ketika seorang pejabat tinggi dari Jakarta, bertanya, apa yang Saudara anggap sukses selama memimpin wilayah Jambi ini, saya kemukakan, bahwa secara pribadi saya menghindari dan tidak akan menggunakan kata-kata sukses karena sukses itu mengandung makna relatif. Orang lain yang dapat dan berwenang menilainya. Bisa saja suatu kesuksesan bagi seseorang, dinilai sebagai sesuatu kegagalan oleh orang lain. Saya lebih suka menggunakan istilah “kenangan manis”, karena hal tersebut relatif subjektif, tidak dapat dibantah bagi yang bersangkutan.

Saya juga merasakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan fungsi selaku Gubernur Kepala Daerah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditempuh tidak selalu memuaskan semua pihak. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan pemikiran dan penafsiran tentang bagaimana seharusnya kebijaksanaan diambil dan dilaksanakan.
...

Beberapa bulan menjelang kedatangan saya di Jambi pada akhir tahun 1979 terjadi pro dan kontra terhadap calon-calon Gubernur Jambi. Hal tersebut membuktikan hidupnya demokrasi. Saya tidak merasa apa-apa terhadap penolakan sementara orang terhadap diri saya pada waktu itu karena kami memang tidak pernah mengenal satu sama lain. Saya tidak menilai bagaimana sikap seseorang sebelum saya datang, tetapi setelah dilantik sebagai Gubernur secara definitif, sudah barang tentu semuanya harus dibenahi.

Setapak demi setapak terasa adanya makin saling pengertian antara semua pihak. Memang, pimpinan apa pun juga, termasuk pimpinan daerah atau Wilayah, harus dapat mengajak, memberi pengertian kepada yang dipimpinnya dan menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan, bahwa apa yang dikerjakan merupakan hal yang benar dan harus disukseskan. Tanpa keyakinan, sulit dicapai hasil yang memadai.

Sebagai pemimpin seseorang harus dapat merangsang tumbuhnya inisiatif dari kelompok staf. Pimpinan dan yang dipimpin memang harus punya suatu sasaran tertentu untuk dicapainya, tetapi pimpinan tidak perlu selalu dan terus-menerus memberikan kesan seolah-olah semua inisiatif keluar daripadanya. Pimpinan harus memberi kesempatan dan perasaan kepada para rekan sekerjanya, bahwa inisiatif dan buah pikiran mereka diakui dan dihargai. Seorang pemimpin tidak perlu merasa “terancam” kepopulerannya. Jika seandainya ada aparat pelaksana yang berkata, bahwa sesuatu hal merupakan buah pikirannya, hal tersebut tidak akan mengurangi “wibawa” sang pemimpin. Memang pimpinan harus mempunyai suatu konsep tertentu untuk memecahkan suatu masalah dan untuk mencapai suatu tujuan.
...

Meskipun demikian sudah selayaknya bahwa seorang pimpinan diharapkan dapat mengungguli yang dipimpin dalam daya pikir, daya penalaran, daya/kemampuan berkreasi, daya juang dan daya tahan. Dari seorang pimpinan dituntut kesehatan, kondisi fisik yang kuat dan baik, demikian pula di bidang moral.

Memang tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang sebagaimana saya sebutkan, tentu mempunyai kelemahan dan kekurangan; ia bisa saja mempunyai cacat atau cela, tetapi kesemuanya harus diatasi setelah disadarinya tentang adanya kekurangan tersebut. Datangnya kesadaran tersebut ialah dengan jalan setiap kali mengadakan introspeksi. Kita harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah kita telah menunaikan tugas semaksimal mungkin dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Apabila jawaban ya, kita tidak usah ragu-ragu untuk melanjutkannya. Suatu ketentuan tidak dapat ditawar-tawar, harus konsisten, tetapi pelaksanaannya harus bijaksana, melihat kondisi dan situasi.

Suatu hal yang harus disadari oleh pimpinan ialah bahwa tidak semua, saya ulangi tidak semua orang akan selalu sependapat dengan kita.

Dalam agama diajarkan, bahwa setiap mengawali sesuatu, termasuk tugas, kita harus mengucapkan Bismillah. Kita bekerja itu karena Allah, diniati sebagai ibadat. Apa pun fungsi dan tugas kita harus laksanakan semaksimal mungkin. Harus bekerja keras membanting tulang, tetapi dengan hati yang berserah diri (semeleh, bhs Jawa), dengan tawakal. Jika apa yang kita lakukan itu dinilai baik oleh atasan ataupun lingkungan dan masyarakat, kita akan mensyukurinya, tetapi seandainya seseorang telah bersusah payah dan berusaha dengan sungguh dalam menunaikan tugas, tetapi dinilai tidak baik, tidak diterima baik oleh atasan maupun lingkungan dan masyarakat, ia harus menerimanya dengan berserah diri kepada Tuhan. Yang penting dan tiap kali harus kita lakukan, ialah mawas diri, bertanya kepada diri sendiri apakah kita telah menunaikan tugas dan kewajiban kita dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan.

Saya percaya bahwa pangkat, derajat dan rezeki itu tidak dapat dikejar-kejar dan dipaksakan untuk datang. Ia akan datang dengan sendirinya sesuai dengan amal perbuatan kita dengan tidak meninggalkan ikhtiar. Ujud dari ikhtiar tersebut ialah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, tiada terkecuali apakah sebagai pegawai negeri atau orang swasta.

Untuk ukuran tingkatan Propinsi Jambi, seorang Kepala Daerah, baik Tk. I maupun Tk. II, para Ka. Kanwil, Kepala Kantor, Kepala Dinas harus membaca semua dan menguasai semua surat baik yang keluar maupun yang masuk, meskipun tidak semua surat harus ia tangani atau selesaikan secara langsung. Saya katakan tadi “untuk ukuran”, karena mungkin saja untuk Propinsi di Jawa, karena volume tugasnya begitu besar maka seorang Gubernur KDH tidak mempunyai waktu untuk membaca semua surat masuk dan keluar.

Seorang pimpinan tidak juga boleh melangkah terlalu maju, melangkah terlalu jauh dari yang dipimpin. Harus selalu dijaga keharmonisan satu sama lain sehingga dicapai suatu kondisi “serempak bak regam”. Jangan sampai seorang menggala melaju terlalu jauh meninggalkan pasukannya.
...

Kita harus tahu menghargai dan tahu berterima kasih kepada siapa pun yang memang sepatutnya kita hargai dan kita terima kasihi secara jujur dan ikhlas tanpa basa-basi. Kepada staf sampai ke yang paling bawah.

Setiap hari Kamis malam Jumat bertempat di Musholla Alzikro dalam lingkungan kediaman Gubernur, diselenggarakan pengajian yang dihadiri Gubernur, Wakil Gubernur, Sekwilda, Ketua Bappeda, Kadit Sospol, Kadit Bangdes, Ketua BKPMD, Irwilprop, para Asisten Sekwilda, para Kepala Biro, para Ka Kanwil, dan Kepala Dinas/kesemuanya dengan para istri. Tujuannya ialah untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengajian ini dimaksudkan pula sebagai pengisian kesejahteraan di bidang moril. Kecuali itu juga untuk mengeratkan tali silaturahmi antarpejabat dan keluarga.
...

(selanjutnya MS mengucapkan terima kasih kepada Presiden, Wakil Presiden, para menteri, anggota DPRD)

Kepada Saudara Drs. Abdurrahman Sayoeti, Wakil Gubernur KDH yang akan dilantik sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi pada tanggal 11 Desember 1989 ini, akan tetap saya kenang loyalitasnya terhadap tugas serta disiplinnya yang tinggi.

(MS melanjutkan ucapan terima kasih)
...

Jambi, 10 Desember 1989

Masjchun Sofwan, SH


Orang-orang Agung: Sebuah Obituari

Agung Sutanto (paling kanan) saat hadir dalam pembukaan ICJS 1 pada November 2013.

Sabtu (11/1) pagi, ketika saya tengah sibuk menyiapkan sebuah hajatan keluarga, sebuah pesan pendek mampir ke ponsel saya. Pesan dari Joko, teman saya di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, itu berisi pertanyaan pendek, “Mas Agung meninggal ya?”

Bagi saya, pesan itu lebih merupakan kabar ketimbang pertanyaan. Maka saya pun menghubungi beberapa orang yang saya duga tengah bersama dengan subjek yang jadi tanda tanya kami. Dan sekitar setengah jam kemudian, kebenaran kabar itu terkonfirmasi.

Namanya Agung Sutanto. Lahir sebagai migran Jawa di Jambi, dia biasa dipanggil dengan sapaan “Mas Agung”. Orangnya kecil, lincah, bicaranya ceplas-ceplos, dan tentu saja pintar. Dia alumnus SMA Titian Teras, sekolah unggulan yang dulu didesain seperti SMA Taruna Nusantara Magelang yang kesohor itu. Pada tahun 1990-an, saya dan teman-teman sering menyebut jika punya NEM SLTP di bawah 42, jangan bermimpi sekolah di sana. Selain pintar, syarat lain adalah punya fisik yang prima karena materi tesnya mirip masuk kesatuan tentara.

Selepas SMA, Mas Agung melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Setahu saya, pada awal 2000-an memang cukup banyak alumni SMA Titian Teras di UGM. Setelah bekerja di IAIN Jambi, dan pernah sekantor dengannya di Pusat Penelitian, saya jadi tahu ternyata Mas Agung salah satunya.

Mungkin karena gaul-nya ketika SMA dan kuliah dengan orang-orang pintar, sewaktu mengambil studi master, dia menulis tesis tentang bagaimana mendidik orang-orang gifted (pintar dan berbakat). Saya dikasih softcopy tesis itu. Intinya, menurut Mas Agung, orang gifted mesti diperlakukan secara khusus dalam pendidikan. Melengkapi tesisnya, dia kemudian membuat sebuah modul pelajaran Fisika untuk siswa SMA yang gifted itu.

Tapi bukan soal itu yang membuat saya takjub padanya, melainkan karena dia membuat sebuah pusat studi bersama beberapa orang muda di IAIN Jambi. Namanya Pusat Kajian Sosial Keagamaan (Puskasa). Saya tahu pertengahan tahun lalu ketika dia tiba-tiba mengajak saya dan beberapa teman untuk mengobrol. Dia bilang Puskasa akan mengajukan proposal ke Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama untuk mengadakan pelatihan penelitian di Jambi.

Saya tentu saja mendukung niatan itu. Kami pun berbagi tugas. Saya diminta menghubungi calon pemateri dari UGM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan beberapa orang di luar negeri yang pernah meneliti Jambi. Mas Agung sendiri melakukan survei lapangan ke Desa Ngaol di Merangin. Topik yang diajukan adalah penelitian antropologi dengan dua fokus: masyarakat tradisional dan Orang Rimba. Dalam kaitan dengan topik Orang Rimba, saya menghubungkan Mas Agung dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI)-Warsi. Kepada Warsi, Mas Agung meminta nanti menjadi pendamping ketika masuk ke rimba.

Setelah melalui mekanisme presentasi di Solo, tak dinyana proposal itu lolos. Jadilah kemudian Puskasa sebagai pelaksana Short-Course Penelitian Antropologi. Pesertanya dari banyak daerah di Indonesia. Ada dari Gorontalo, Jawa Timur, Jakarta, Sumatera Barat, Banten, dll. Setelah menerima teori di Jambi, peserta yang berjumlah 25 orang beserta beberapa panitia mengadakan praktik penelitian lapangan di komunitas Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Di sela-sela itu, peserta juga menghadiri The First International Conference on Jambi Studies (ICJS 1) dan pada 6 Januari lalu beberapa ikut menonton perhelatan Malam Keagungan Melayu dalam rangka menyambut HUT Provinsi Jambi.

Oleh karena kesibukan saya kuliah di Yogyakarta, dari awal hingga nyaris akhir pelatihan saya tidak banyak terlibat. Saya juga tidak ikut masuk ke rimba. Saya baru terlibat ketika pada 5-6 Januari mendampingi Dr.Phil Al Makin dari jurnal al-Jami’ah yang memberi materi penulisan artikel hasil penelitian untuk jurnal terakreditasi.

Ketika mendampingi itulah, saya jadi tahu topik dan hasil riset yang dikerjakan para peserta short-course sangat menarik. Ada yang menulis tentang joke-joke Orang Rimba terhadap orang luar dan joke orang luar terhadap Orang Rimba. Ada yang menulis topik reproduksi perempuan Rimba. Ada juga yang tentang kesenian, agama, dan bahan kontak atau bakon. Al Makin berulang kali mengatakan short-course ini luar biasa sebab hasilnya sangat wah.

Tapi di manakah Mas Agung saat materi penulisan artikel itu? Saya tidak melihat dia di hotel. Sore hari 5 Januari, menjelang magrib, dia baru datang. Di depan hotel, diiringi rintik hujan, kami pun berbincang. Dia antusias sekali cerita bagaimana Dr Bisri Effendi dari LIPI yang sangat bersemangat memberikan coaching meskipun harus berada di dalam hutan. “Rencana awalnya dua hari, eh Pak Bisri malah hampir seminggu di sana,” kata Mas Agung.

Dia juga bercerita tentang ganasnya rimba TNBD. Dari 25 peserta, empat orang dirawat sepulang dari rimba. “Kamu kan tahu aku gak pernah sakit. Tapi dari sana, aku sempat demam juga,” katanya. Sore itu, bersama tiga anaknya yang masih kecil-kecil, dia baru saja menjenguk peserta yang dirawat. Dia juga bilang esok hari akan ke Jakarta mengurus berbagai hal terkait short-course. Saya pikir, sebagai ketua panitia, dia pasti sibuk sekali.

Sore itulah pertemuan terakhir saya dengannya. Pada 10 Januari saya masih kontak dengannya. Saat itu Pak Bisri dari LIPI menanyakan ke saya kapan konferensi hasil penelitian peserta short-course dilaksanakan. Saya segera kontak Mas Agung yang kemudian bilang, “Kepastian waktunya menunggu satu-dua hari lagi.” Dia mengatakan, panitia masih fokus mengurus peserta yang sakit, dan belum tahu apakah bisa membuat konferensi atau tidak karena beberapa komponen dana tersedot untuk biaya pengobatan.

Meskipun begitu, saya tahu Mas Agung sangat menginginkan konferensi itu. Sebelumnya dia sudah memaparkan rencana itu kepada saya. Dia katakan, konferensi itu nanti mesti juga mendatangkan perwakilan dari pemerintah. “Kita punya 25 hasil riset terbaru tentang Orang Rimba, dan para pengambil kebijakan mesti melihat dan membacanya,” kata dia penuh semangat. Saya tentu senang sekali kalau konferensi itu ada.

Tak saya sangka, kepastian konferensi yang menunggu satu-dua hari itu ternyata bukan soal dana, melainkan tentang kepergiannya untuk selamanya. Saya masih ingat betul kata-katanya, “Tunggu satu-dua hari lagi.” Tak butuh dua hari, karena sehari setelah dia menyebut itu, dia dipanggil Yang Mahakuasa.

Saya kira Mas Agung pergi dengan bahagia. Dia meninggal ketika sedang melaksanakan pekerjaan besar melatih banyak peneliti untuk membikin riset tentang Jambi. Pekerjaan yang tak biasa dan tak populer di Jambi. Ini kehilangan besar bagi IAIN Jambi, kehilangan besar bagi Jambi.

Saya bergidik karena tepat seminggu sebelum meninggalnya Mas Agung, saya merampungkan penyuntingan sebuah buku tentang Yusak Adrian Hutapea, penggagas dan perintis pertama pendidikan untuk Orang Rimba, yang akan diterbitkan KKI-Warsi. Ketika mengedit buku itu, saya tergetar membaca saat-saat jelang wafatnya Yusak. Begitu ganasnya malaria. Hanya beberapa menit setelah merasakan demam hebat dan menggigil, Yusak tak tertolong. Kepergian Mas Agung, saya dengar, juga hampir sama gejalanya dengan Yusak. Kecuali itu, saya kira Yusak dan Mas Agung punya kesamaan lain: sama-sama meninggal dalam pekerjaan yang mereka cintai.

Satu orang lagi di Jambi yang meninggal ketika tengah membaktikan diri untuk daerah ini adalah Fachruddin Saudagar. Dia wafat setelah terjatuh ketika tengah mengajar di Universitas Jambi. Dan siapa yang tak mengenal Pak Fachruddin? Dia salah seorang yang paling bersemangat dalam hal meneliti Jambi. Dia menulis beberapa buku tentang Jambi. Seingat saya, dia tak pernah absen ketika diundang untuk berdiskusi apa pun tentang daerah ini. Ketika didaulat menyampaikan laporan oleh teman-teman panitia ICJS 1 pada Nonember lalu, saya menyampaikan bahwa ICJS 1 didedikasikan untuk Almarhum Pak Fachruddin.

Sewaktu memberitahukan kabar wafatnya Mas Agung, Al Makin yang tengah berada di Jerman membalas e-mail saya dengan kata-kata berikut: “Pengorbanan yang tak sia-sia. Yang ditinggal harus meneruskan.”

Yusak, Pak Facruddin, dan Mas Agung adalah orang-orang besar. Karya mereka harus dilanjutkan.


Jambi, 17 Jan 2014