Asal-Usul Bahasa dan Komunikasi





APA ITU bahasa? Bagaimana bahasa muncul? Apakah bahasa merupakan fenomena yang khas untuk manusia ataukah juga ada pada binatang? Mengapa ada begitu banyak bahasa? bagaimana bahasa bisa menjadi sangat banyak? Bagaimana bahasa-bahasa yang banyak itu dibedakan?

Pertanyaan itu sengaja ditampilkan untuk mengawali tulisan ini. Tentu saja itu bukan pertanyaan baru, tetapi pertanyaan lama yang barangkali telah seumur manusia itu sendiri atau setidaknya telah muncul ketika manusia mulai mempersoalkan tentang bahasa digunakannya.

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut juga tidak mudah. Telah banyak sekali pakar yang coba menjawabnya. Artikel Brad Harrub, Bert Thompson, dan Dave Miller, “The Origin of Language and Communication”, meringkas jawaban-jawaban itu. Alih-alih memuaskan, menurut mereka, jawaban-jawaban itu gagal memberikan penjelasan memadai. Setiap jawaban yang diberikan satu pakar, dibantah oleh pakar lain. Begitu seterusnya. Kata Harrub, Thompson, dan Miller, teori-teori berlimpah, tetapi bukti untuk mendukungnya tetap misterius (theories are plentiful—while the evidence to support those theories remains mysteriously unavailable). Artikel mereka sesungguhnya juga bukan jawaban, melainkan berisi perdebatan menyangkut pertanyaan-pertanyaan di atas.


Evolusi

Pertama-tama Harrub, Thompson, dan Miller menyuguhkan perdebatan tentang bahasa terkait evolusi. Teori evolusi sering diasosiasikan dengan Charles Darwin. Di dalam bukunya yang telah menjadi klasik, The Origin of Species, Darwin menyebutkan bahwa selain gen, kondisi alam—seperti panas-dingin, dataran tinggi-dataran rendah, laut-gunung, dst—turut memengaruhi pertumbuhan manusia. Dari sini dia menjelaskan mengapa anatomi tubuh manusia tidak sama antarorang. Ada yang tinggi-pendek, hitam-kuning-putih-cokelat, mancung-pesek, dst. Menurut Darwin, semua dipengaruhi alam. Berdasarkan teori ini, Darwinisme kemudian memprediksi bahwa manusia pada awalnya tidaklah seperti yang sekarang, tetapi merupakan hasil dari proses evolusi yang panjang hingga sempurna seperti ini.

Perdebatan bahasa terkait evolusi adalah bahwa bahasa pada awalnya tidaklah sempurna seperti saat ini. Untuk sampai pada tahap seperti yang sekarang, bahasa mengalami evolusi yang sangat panjang. Mula-mula kemampuan manusia terkait bahasa hanya sedikit, karena otak manusia juga belum sempurna. Lama-kelamaan, seiring perkembangan otak yang sangat dipengaruhi lingkungan, kemampuan bahasa juga bertambah. Mula-mula kemampuan bahasa manusia adalah gestural, kemudian berkembang selama ratusan tahun menjadi sintaks, dan akhirnya vokal.

Argumen yang dipakai tentang kemampuan evolutif manusia dalam bahasa adalah kemampuan bahasa anak yang seiring pertambahan usia juga membuat kemampuan berbahasanya menjadi bertambah.

Kaitan dengan evolusi dalam bahasa adalah pada awalnya bahasa mungkin hanya satu atau tunggal, tetapi kemudian berkembang dan berkembang hingga menjadi sangat banyak dan beragam. Evolusionis berpendapat, keragaman bahasa jelas dipengaruhi oleh kondisi alam.


Kembali ke Kitab Suci

Teka-teki bahasa juga membuat manusia kembali mencari basis teori melalui kitab suci. Di dalam tradisi Kristiani seperti yang dikutip Harrub, Thompson, dan Miller, manusia pertama yang berbahasa adalah Adam. Dikatakan juga bahwa Tuhan berkomunikasi dengan Adam melalui bahasa. Adam diajarkan bahasa oleh Tuhan dan Adam kemudian menamai apa saja yang ada di sekitarnya. Sebagai teman berkomunikasi, diciptakan Hawa.

Di dalam tradisi Islam, juga ada kisah yang sama:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’” (Q.S. al-Baqarah [1]: 31-33)
Di dalam ayat itu Tuhan mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama. Ini menjadi dalil bagi linguis bahwa bahasa berasal dari Tuhan; bahwa kemampuan bahasa manusia merupakan karunia Tuhan. Kemampuan itu disebutkan sebagai tidak dimiliki oleh makhluk lain, yaitu malaikat.

Setelah Adam dan Hawa diciptakan, keduanya melanggar aturan surga yang tidak boleh memakan buah tertentu, sehingga kemudian keduanya diturunkan ke muka bumi. Turunnya Adam dan Hawa ke bumi diyakini sebagai kehendak Tuhan agar manusia tidak berada hanya di satu tempat, tetapi menyebar. Dengan kata lain, Tuhan menghendaki agar bahasa manusia bermacam-macam.


Campur Tangan Tuhan

Sub-bagian sebelumnya sebenarnya juga menegaskan bahwa kemampuan bahasa manusia merupakan campur tangan Tuhan. Lebih jauh Harrub, Thompson, dan Miller mengatakan, campur tangan Tuhan semakin tampak dalam kisah hancurnya Menara Babel yang menjadi penyebab bahasa manusia bermacam-macam.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, turunnya Adam dan Hawa ke muka bumi merupakan kehendak Tuhan agar bahasa manusia tidak satu, tetapi bermacam-macam. Namun, musibah banjir raksasa di masa Nabi Nuh menenggelamkan semua makhluk hidup kecuali mereka yang naik ke atas bahtera Nuh. Di dalam bahtera itu, mereka kembali menggunakan bahasa tunggal. Demikian pula, setelah banjir surut dan bahtera mendarat, mereka menginginkan bahasa itu tetap satu.

Demi mewujudkan tekad itu, mereka membangun Menara Babel yang bertingkat ke atas. Itu agar mereka tinggal di satu tempat dan tidak terpisah-pisah sehingga bahasanya tetap tunggal. Namun, karena hal itu bertentangan dengan kehendak Tuhan, Tuhan murka dan meruntuhkan menara itu. Kisah Menara Babel kemudian sering dianggap sebagai perlawanan terhadap takdir; ketidakmampuan kehendak manusia di hadapan takdir. Setelah runtuh, manusia kembali menyebar dan akhirnya bahasa mereka bermacam-macam lagi. Di sini diyakini bahwa bahasa yang bermacam-macam merupakan kehendak Tuhan.


Kemampuan Otak dan Anatomi Wicara

Sebagaimana telah disampaikan di atas, bahasa juga dipengaruhi oleh perkembangan otak manusia. Dalam evolusi dikatakan bahwa otak manusia yang semakin sempurna menyebabkan bahasa manusia juga kian sempurna. Teori ini sering dikaitkan dengan bukti kerusakan otak yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan bahasa seseorang. Di dalam linguistik disebutkan bahwa penyakit kehilangan kemampuan itu adalah aphasia. Penderitanya akan kehilangan kemampuan menyebutkan kalimat secara lengkap bahkan kata.

Teori ini juga menyebutkan bahwa perkembangan otak dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi manusia. Gizi yang cukup membuat otak berkembang maksimal, sehingga kemampuan berbahasa juga menjadi mumpuni. Otak ini juga mengatur komunikasi dengan syaraf-syaraf anatomi wicara yang rumit; otak adalah pusat syaraf. Peran otak yang besar ini yang menjadi sentra dalam kemampuan berbahasa seseorang.

Pertanyaannya, bukankah hewan juga punya anatomi wicara seperti manusia, tetapi mengapa hewan tidak punya kemampuan berbahasa sebagaimana manusia? Para ahli fisiologi mengemukakan bahwa anatomi wicara manusia sangat kompleks, tidak seperti hewan. Karena itu, walaupun ada hewan yang bisa meniru bahasa manusia, selalu kemampuan itu sangat terbatas. Kemampuan yang terbatas itu juga dipengaruhi struktur otak hewan yang kecil.


Keunikan Manusia

Kesimpulan atas uraian panjang artikel Harrub, Thompson, dan Miller adalah bahwa kemampuan bahasa adalah unik pada manusia. Kemampuan itu tidak ada pada hewan. Meskipun praduga dalam evolusi menarik, teori ini gagal menjelaskan kemampuan hewan yang tidak berkembang. Evolusi memang mampu menjelaskan bahasa manusia menjadi beragam, tetapi tidak mampu menunjukkan secara spesifik faktor alam yang memengaruhi.

Sementara itu, menyandarkan persoalan bahasa sebatas fisiologis atau anatomis saja sebenarnya juga tidak tepat. Untuk kemampuan mengungkapkan bahasa barangkali ya, misalnya kerusakan anatomis akan memengaruhi cara orang dalam berkata-kata. Tapi kemampuan dasarnya—Noam Chomsky menyebutnya kemampuan gramatikal yang sudah built-in—tetap sama. Linguis lain, Roman Jakobson, pernah menyebut bahwa kerusakan otak dalam kasus aphasia pun sesungguhnya tidak memengaruhi kemampuan gramatikal bahasa seseorang.

Bagaimana “jalan lain” dengan kembali ke kitab suci? Secara teologis mungkin akan membantu perdebatan, tetapi secara empiris sulit membuktikan soal campur tangan Tuhan. Jalan ini barangkali hanya penting untuk menegaskan bahwa kemampuan bahasa manusia adalah unik, tidak dipunyai oleh makhluk lain sebagaimana kesimpulan akhir artikel Harrub, Thompson, dan Miller.


Tanggapan

Saya kira “jalan buntu” dalam artikel Harrub, Thompson, dan Miller terjadi karena sudut pandangnya yang sangat fisiologis. Dengan perspektif ini, Harrub, Thompson, dan Miller kemudian melihat evolusi, dan yang dimaksud evolusi di sini sangat fisiologis, menyangkut perkembangan fisik dan otak manusia. Karena tidak menemukan titik terang dalam evolusi, Harrub, Thompson, dan Miller kemudian mencari dalil dalam kitab suci. Mudah ditebak, kesimpulan mereka adalah bahwa kemampuan bahasa adalah unik dan khas manusia yang berasal dari Tuhan.

Andai saja Harrub, Thompson, dan Miller mau mengambil perspektif lain, misalnya strukturalisme (linguistik), barangkali banyak soal akan terjawab. Strukturalisme misalnya mendefinisikan bahasa sebagai sistem tanda yang arbitrer dan konvensional. Jadi ada dua syarat bahasa: arbitrer dan konvensional. Syarat arbitrer menjelaskan kenapa kemudian bahasa menjadi banyak sekali, karena semua orang bisa membuatnya; suka-suka orang membuatnya. Kemanasukaan itu dibatasi hanya oleh syarat kedua, yaitu konvensi. Dan yang dimaksud konvensi di sini juga dua orang. Jadi bahasa mungkin diciptakan oleh dua orang saja asal mereka bersepakat menggunakan kode bahasa tertentu.

Selain menjelaskan bahasa bisa banyak sekali, dua syarat di atas juga menjadi alasan mengapa bahasa bisa berbeda antarkelompok. Terutama faktor arbitrary menunjukkan bahwa tiap dua orang bisa membuat perbedaan-perbedaan dalam bahasa. Prinsip perbedaan (difference) ini yang membuat bahasa berkembang menjadi banyak.[]


___________

Artikel ini merupakan review atas artikel Brad Harrub, Bert Thompson, dan Dave Miller, “The Origin of Language and Communication”. Artikel mereka dapat diunduh di sini.


Kredit gambar: Atas.

0 komentar: