Malaria dan Orang Rimba


Anak Orang Rimba [sumber: The Jakarta Post]

AWAL TAHUN lalu, teman saya dari Pusat Kajian Sosial Keagamaan (Puskasa) Jambi, Agung Sutanto, mengajak saya dan beberapa teman untuk bergabung dalam project-nya mengadakan pelatihan penelitian di Jambi. Kami kemudian mengajukan proposal berisi dua topik pelatihan penelitian, yaitu masyarakat tradisional dan Orang Rimba. Topik terakhir disetujui dan pada November-Desember 2013 pelatihan pun dilaksanakan.

Pelatihan itu terdiri atas dua tahap. Pertama, teori, yang dilaksanakan di Kota Jambi selama sebulan pertama. Kedua, praktik lapangan selama tiga minggu di hutan Bukit Duabelas yang merupakan tempat Orang Rimba tinggal. Peserta sebanyak 25 dosen yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Usia mereka rata-rata di bawah 40. Demi lancarnya pelaksanaan, kami juga menggandeng KKI Warsi yang selama ini banyak bekerja di Bukit Duabelas, termasuk memfasilitasi pendidikan untuk Orang Rimba.

Pada awalnya kegiatan itu berjalan tanpa kendala. Ketika akan masuk hutan, semua diperiksa dokter dan diberi vaksin. Semua juga meminum ramuan tradisional seperti dianjurkan KKI Warsi. Tak lupa, obat-obatan dan vitamin dibawa ke dalam hutan. Selama di sana, peserta dan panitia juga mengenakan lotion antinyamuk. Ketika tidur, kelambu digunakan.

Namun ternyata semua usaha itu tak mampu mencegah malaria. Dari 25 peserta, hanya satu yang negatif malaria. Yang paling mengguncang kami, Agung Sutanto yang mengetuai panitia meninggal akibat penyakit mematikan itu sebelum kegiatan berakhir.

Bukit Duabelas adalah taman nasional yang merupakan hutan berbukit-bukit. Wilayahnya masuk tiga kabupaten, yaitu Batanghari, Sarolangun, dan Tebo, selain berisi tumbuhan hutan dan binatang, Bukit Duabelas juga didiami Orang Rimba. Orang Rimba dikenal sebagai suku atau komunitas adat terpencil di Jambi. Kadang-kadang mereka disebut Suku Anak Dalam (SAD) atau Suku Kubu. Di hutan, mereka hidup dari hasil berburu dan tanaman hutan. Jumlah mereka diperkirakan 2000-an jiwa.

Saat ini hidup Orang Rimba mengalami banyak tekanan, antara lain oleh banyaknya pengelolaan hutan untuk industri, seperti untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan industri. Selain mengurangi wilayah hidup Orang Rimba, perubahan lingkungan juga berakibat langkanya hewan buruan.

Pemerintah pernah membuat program pemukiman Orang Rimba. Mereka dibuatkan rumah dan diberi lahan perkebunan. Program itu tidak berhasil karena perbedaan budaya. Orang Rimba meninggalkan permukiman itu dan kembali ke hutan.

Karena tinggal di hutan, berbagai program untuk Orang Rimba kemudian juga harus mengikuti cara hidup mereka. Program pendidikan, misalnya. Program ini sangat strategis karena Orang Rimba sering ditipu ketika melakukan jual-beli dengan orang luar akibat mereka tidak bisa baca-tulis. Untuk menjalankan program ini, fasilitator harus masuk ke dalam hutan.

Selain medan yang berat, tantangannya adalah kawasan hutan Jambi, terutama Bukit Duabelas, merupakan endemik malaria. Banyak orang yang masuk ke sana terjangkit penyakit tersebut, termasuk para fasilitator.

Yusak Adrian Hutapea, misalnya, yang merupakan perintis pendidikan untuk Orang Rimba. Sewaktu bekerja untuk KKI Warsi, dia mendapati Orang Rimba yang sering ditipu. Dia pun tergerak mengajari mereka baca-tulis. Bukan hal mudah itu dilakukan. Bagi Orang Rimba, apa saja yang datang dari luar bisa berakibat kutukan pada mereka, termasuk pendidikan.

Dengan berbagai pendekatan, Yusak berhasil diterima dan mendapatkan murid. Jangan bayangkan yang ikut banyak, melainkan tak lebih dari hitungan jari saja. Tapi itu tidak mematahkan semangat Yusak. Baginya, jumlah yang sedikit itu lama-kelamaan akan menularkan pengetahuan mereka kepada yang lain.

Hampir dua tahun Yusak menjadi fasilitator pendidikan bagi Orang Rimba, sebelum kemudian malaria tropika menghentikannya. Yusak meninggal akibat penyakit tersebut. Tak sampai dua jam dia merasakan badannya demam tinggi, ajal menjemputnya.

Pekerjaan mulia itu kemudian diteruskan beberapa fasilitator setelah Yusak, seperti Butet Manurung, Abdul Rahman, dan Priyo Uji Sukmawan. Dalam film tentang kisah hidup Butet Manurung, Sokola Rimba, juga dikisahkan Butet yang terserang malaria di dalam hutan dan diselamatkan oleh anak Orang Rimba. Semua fasilitator pernah merasakan ganasnya malaria. Ada juga yang meninggal karenanya sebagaimana Yusak, yakni Priyo Uji Sukmawan.

Ganasnya malaria di Bukit Duabelas jelas merupakan kendala besar bagi fasilitasi Orang Rimba. Bagi orang yang ingin melakukan penelitian terkait hutan atau tentang Orang Rimba di Bukit Duabelas, seperti Agung Sutanto dan peserta pelatihan, penyakit itu bagaikan binatang ganas yang sewaktu-waktu siap menerkam. Di Bukit Duabelas, ancaman malaria jauh lebih menakutkan ketimbang binatang buas.

Apakah Orang Rimba yang selama ini tinggal di Bukit Duabelas tidak terjangkit penyakit itu? Mengapa mereka masih tetap di sana hingga sekarang?

Orang Rimba sendiri tidak mengenal penyakit malaria. Kata itu asing bagi mereka. Dalam pengetahuan Orang Rimba, demam seperti malaria disebut dengan domom. Ada beberapa jenis domom, antara lain domom kuro dan domom selimo. Menurut Orang Rimba, penyakit-penyakit itu disebabkan oleh gangguan setan atau akibat sering berhubungan dengan orang luar.

Sebagai daerah endemik malaria, Bukit Duabelas menjadi perhatian pemerintah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangko, misalnya, menyediakan akses pelayanan bagi Orang Rimba. Pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas di sekitar kawasan Bukit Duabelas juga siap menampung penderita malaria. Selain itu, KKI Warsi bekerja sama dengan pemerintah menyediakan fasilitator kesehatan yang mengecek kesehatan Orang Rimba. Mereka bahkan masuk-masuk ke dalam hutan.

Orang Rimba sendiri juga punya kearifan lokal (indigenous knowledge) untuk mengobati malaria atau penyakit-penyakit demam. Selain menggelar upacara magis dengan dedekiron atau zikir untuk mengusir roh jahat, mereka biasanya meminum rebusan akar pohon pasak bumi (Eurycoma longifolia) yang mereka sebut sempedu tanoh. Mereka juga minum rebusan batang tumbuhan perdu yang disebut akar korem (Derris sp.). Sebagaimana terhadap penyakit lain, Orang Rimba memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk mencegah dan mengobati malaria.

Namun sekarang desakan industri yang menghilangkan sumber daya hutan juga menyebabkan Orang Rimba kehilangan sumber-sumber pengobatan mereka. Orang Rimba sering mengeluh, penyakit kini sulit disembuhkan.[]


0 komentar: