Muted Group Theory, Spiral of Silence, dan Null Persona




MUTED GROUP theory (MGT) dibangun oleh suami-istri Edwin dan Shirley Ardener dari Oxford, Inggris, dan berkembang pada 1970-an. Disumbang oleh feminisme, teori ini ingin mengatakan bahwa tidak ada yang setara dalam komunikasi. Ada pihak-pihak yang berkuasa dan mengatur wacana sehingga membuat yang lain menjadi bisu (muted). Di dalam feminisme gelombang ketiga dikatakan bahwa wacana dikuasai oleh laki-laki sehingga yang berkembang dalam komunikasi adalah bahasa yang dibuat (encoded) oleh dan untuk laki-laki. Di dalam bahasa yang timpang itu, tidak ada yang dinamakan perspektif perempuan dan suara perempuan telah dibisukan. Sebagaimana secara biologis berbeda dengan laki-laki, perempuan memiliki pengalaman yang unik pada dirinya sendiri, seperti pengalaman menstruasi, melahirkan, dan menjadi ibu. Pengalaman-pengalaman unik itu tidak dapat sepenuhnya dikisahkan lantaran sistem bahasa sudah telanjur tidak setara. Kalaupun kemudian mereka berkisah, perempuan bahkan harus menyusunnya di dalam bahasa yang maskulin tersebut.[1] MGT hadir untuk membuka ketimpangan itu dan mencari jalan kesetaraan di dalam “wacana yang tepat atau normal”.[2]

Meskipun awalnya banyak menyoal bahasa, perspektif MGT diyakini mampu digunakan dalam analisis pengalaman sosial yang kompleks, termasuk komunikasi antarbudaya yang acap tidak setara dan penuh dominasi. Sebagaimana di dalam bahasa, dominasi di dalam wacana dilakukan dengan sangat halus dan samar. Walhasil, yang tampak seolah wacana yang normal yang sudah selayaknya begitu. Kalau ditelisik lebih jauh, sesungguhnya wacana normal itu disusun dengan menegasikan suara-suara liyan yang kemudian diacu sebagai minoritas. Karena pewacanaannya sangat halus, bahkan sang minoritas pun sering tidak merasakan bahwa dirinya didominasi atau tidak sadar telah beroperasi di dalam wacana dominan. Baginya, itu juga wacana yang wajar dan normal. Di dalam feminisme, wacana yang normal itu bernama wacana patriarkal, sementara di dalam masyarakat secara umum yang benar adalah pendapat mayoritas atau kelompok dominan.[3]

Bagaimanakah proses pembisuan liyan itu dijalankan? Lisset Osuna dan Cory Griffin menyebutkan empat cara. Pertama, dengan mengejeknya sebagai wacana dan ocehan murahan serta tidak penting. Kedua, melalui berbagai kegiatan dan ritus yang menyudutkan minoritas. Ketiga, dengan mengontrol topik pembicaraan ketika minoritas beraksi atau berwacana. Keempat, dengan mengganggunya di ruang publik, seperti di tempat kerja bagi perempuan.[4]

Selain karena hegemoni semacam itu, teori spiral of silence yang juga menyoal komunikasi yang tidak setara antarkelompok masyarakat menambahkan bahwa minoritas menjadi bisu lantaran ketakutan yang terus-menerus ditebar oleh mayoritas serta self-monitor untuk menyesuaikan dengan pendapat mayoritas. Menurut teori ini, seseorang yang menjadi minoritas atau mengambil pandangan minoritas, akan menutup diri untuk mengungkapkan identitas dan pendapatnya.[5] Memakai kerangka Louis Althusser, kalau spiral of silence lebih melihat faktor tekanan dari luar yang bersifat represif sebagai penyebab suatu kelompok menjadi bisu atau diam, MGT memandangnya sebagai produk aparat ideologis.[6]

Apa yang hilang dalam kebisuan atau diam itu adalah perspektif atau sudut pandang liyan yang disebut null persona. Di dalam komunikasi, pesan selalu berasal dari orang pertama yang berkata (first persona). Pesan tersebut sesungguhnya disampaikan kepada audiens yang merupakan orang kedua (second persona). Jalur komunikasi yang digariskan Black ini kemudian ditambahkan oleh Wander dengan sosok lain yang tidak dihadirkan dalam wacana karena dibisukan, yang dirujuk sebagai orang ketiga (third persona). Ketika pembisuan terjadi, audiens dan orang pertama kemudian menjadi bagian dari wacana yang harus dibaca. Ada yang sengaja disembunyikan atau tidak dibicarakan di dalam wacana, yang disebut null persona.[7]

Baik MGT, spirall of silence, maupun null persona menekankan bahwa ada yang dihilangkan dalam wacana yang dianggap normal. Sungguhpun demikian, kelompok yang bisu (muted/silence/null) tersebut tidak sepenuhnya diam. Mereka juga bisa bersuara dan melakukan resistensi. Menurut Osuna dan Griffin, strategi resistensinya adalah menciptakan bahasa atau wacana tandingan yang berbeda dari wacana dominan. Wacana tanding itu kemudian diklaim, diangkat, dan dirayakan oleh minoritas.[8]

______________

[1] Tentang feminisme dan khususnya feminisme gelombang ketiga, baca Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, (Colorado: Westview Press, 1998). Di dalam komunikasi, lihat Ellen Riordan, “Feminist Theory and the Political Economy of Communication”, Andrew Calabrese & Colin Sparks, Toward a Political Economy of Culture: Capitalism and Communication in the Twenty-First Century, (Lanham-Boulder-New York-Oxford: Rowman & Littlefield Publishers Inc., 2003), hlm. 342-355.

[2] Sarah Funderburke, “Operating the Silencer: Muted Group Theory in The Great Gatsby”, MA-thesis, Liberty University, Virginia (2012), hlm. 24-25.

[3] Funderburke, “Operating the Silencer”, hlm. 25-28.

[4] Lisset Osuna dan Cory Griffin, “Muted Group Theory”, bahan presentasi tidak diterbitkan.

[5] E. Noelle-Neumann, “The Theory of Public Opinion: The Concept of the Spiral of Silence”, J.A. Anderson (ed.), Communication Yearbook 14, (California: Sage, 1991), hlm. 256-287.

[6] Tentang pembagian aparat ideologis dan represif, lihat lebih lanjut Louis Althusser, On Ideology, (London: Verso, 2008).

[7] Christina L. Ivey, “Me and God, We are Cool: Reconciliation between Religious and Sexual Identity among LGBT Members”, MA-thesis, Kansas State University, (2012), hlm. 23-24.

[8] Osuna dan Griffin, “Muted Group Theory”.


0 komentar: